Monthly Archives: January 2007

Berbagi Payung

Standard

Rainy season love story,

Hehe, baru dapet inspirasi tadi pagi. Mirip-mirip judul film ya: Berbagi Suami.

Kali ini inspirasinyakarena tadi pagi hujan dan aku berpikir, kenapa ngga kita buat cerita mengenai sepasang kekasih yang berbagi payung saat hujan selama 4-5 jam. Selama 4-5 jam merek berpayung dan berjalan dalam hujan, banyak terjadi percakapan di antara mereka.

Well, aku juga belum apet pikiran mau di bwa kemana arah cerita ini. Sulit sekali membuat tulisan dari kehidupan selama 4-5 jam saja. Tentunya harus banyak berinspirasi dan memampatkan ceritanya.

Kalau teman-teman ad inspirasi atau ide cerita, tolong disumbangkan ke sini ya.

Thanks, Reiza

Jokey 3 in 1

Standard

Hm…inspirasi lainnya,

Inspirasi in datang ketika aku menjalani masa internship, baru-baru ini saja. Beberapa waktu lalu, ketika Anita, seorang intern dari Amerika masih menjalani hari-hari internshipnya di Jakarta, beberapa waktu kita sering keluar bersama. Biasanya kita berjalan kaki dan melalui jalan Senopati pada saat jam pulang kantor, sekitak jam 5. Di sekitar jalan itu sudah mulai ramai terlihat jokey-jokey 3 in 1 yang menawarkan jasa tumpangnya untuk melalui kawasan 3 in 1 Sudirman Thamrin.

Anita, berpikir untuk membuat film dokumentari dari kehidupan para jokey ini. Hm..pasti menarik, pikirku. Kehidupan mereka dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Kebanyakan mereka tingal di daerah kumuh di belakang apartemen Senopati. Tapi, tampaknya mereka juga ramah dan baik. Dari tampang mereka dan cara mereka berpakaian. Mereka tampak menyenangkan untuk dijadikan teman ataupun teman ngobrol mengenai pengalaman mereka selama menjadi jokey.

Well, ide Anita memang bagus. Tapi aku memiliki ide lain, tidak membuat film dokumentari mengenai kehidupan mereka tetapi membuat buku novel dari kehidupan mereka, atau salah satu dari mereka.

Begini, idenya. Salah satu dari jokey 3 in 1 ini, bisa laki-laki atau perempuan. Dia tidak puas dengan penghasilannya menjadi jokey 3 in 1 setiap hari. Dan dia bosan dengan pengulangan kejadian setiap hari. Menunggu mobil mewah berhenti, dan dia naik, lalu melewati kawasan 3 in 1 da ndi diturunkan di ujung jalan di luar kawasan 3 in1 dan dia dibayar 5000 Rupiah atau kadang kalau pemilik mobil sedang baik bisa 10000 Rupiah.

Dia pun berpikir dan mengharapkan lebih dari pekerjaan rutinnya sebagai jokey 3 in 1. Mulailah dia berpikir dan mencari cara untuk lebih membuat dia bersemangat menjadi jokey 3 in 1. Dia pun mulai mendapatkan ide, dari menjual makanan kecil untuk pemilik mobil (barangkali mereka lapar dan memerlukan makanan kecil selama perjalanan) hingga menjual barang, seperti kaos ataupun minyak wangi.

Tampaknya idenya boleh juga. Tapi, dia mendapatkan ide yang lebih menarik di pikirannya. Hm..bermodalkan tampang dan penampilan keren, dia mulai berpikir selain menjadi jokey 3 in 1, mungkin aku juga bisa menjadi penjaja seks cepat. Dengan begitu aku bisa mendapatkan penghasilan lebih dan pastinya aku bisa menikmati kamar hotel bintang lima di Jakarta dan kepuasan yang lain.

Keesokan harinya, dia mulai berdandan dan berpenampilan beda dari biasanya, lebih mencolok dan rapi untuk menarik pengguna jasa jokey 3 in 1, dan membangkitkan gairah seksual pengendara mobil yang barngkali merasa jenuh dan lelah dengan ksibukan sehari-hari mereka, dan mereka membutuhkan kepuasan seks dengan cepat. Tampaknya dia bisa membaca permintaan dan kebutuhan pasar.

Hm..hari ini, dia mendapatkan pelanggan baru. Mobil mewah, tampang ok penampilan keren. Mulailah dia menawarkan jasa lainnya yang dia punya, seks cepat (quick sex). Tampaknya, dia tidak salah, instinctnya memang tepat. Semula pemilik mobil tampak sedikit rish mendengarkan tawarannya, dia terus mengemudi sambil melihatnya di kaca dari ujung kaki ke ujung rambutnya. Perlahan dia pun mulai tergoda. Akhirnya, pengendara meluncurkan mobilnya di kawasan Menteng, dan mereka pun akhirnya check-in. Dengan alasan yang benar-benar masuk akal, pihak hotel tidak bertanya lebih jauh. Mereka pun akhirnya melakukan hubungan seks layaknya pasangan suami istri.

Setelah sekitar 2 jam, mereka keluar dan meninggalkan hotel.

Dia pun mendapatkan keinginannya, uang lebih, dan tidur di hotel mewah, meskipun hanya untuk sesaat, tampaknya dia puas dengan pengalaman barunya.

Hari demi hari, dia semakin banyak mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda. Dri kamar hotel bintang 3 hingga bintang 5, bahkan mereka melakukannya di dalam mobil! tidak bisa dibayangkan. Bahkan dia pernah dibawa ke salah satu mall, dan mereka melakukannya di tempat parkir mobil. Tidak hanya itu, dia pun dibawa ke Ancol, di mana banyak kita lihat mobil-mobil goyang berjejer di lapangan parkir ketika hari mulai gelap.

Well, itu hanya sekilas inspirasi yang bisa aku dapatkan mengenai cerita ini. Untuk kelanjutan ceritanya, barangkali teman-teman ada saran. Bisa juga kita perkuat karakter si joeky 3 in 1 ini dengan kondisi bahwa ternyata dia adalah seorang psikopat. Terkadang dia membunuh pelanggannya untuk mencuri semua barang mewah yang mereka bawa. Ataupun pura-pura jatuh cinta tapi menguras habis kekayaan mereka. Ya, barangkali ada ide yang lebih menarik lagi untuk dimasukkan kesini.

Okay, ide-ide kalian ditunggu untuk mengembangkan konsep cerita ini.

Thanks, Reiza

Monolog Pagi

Standard

Well,

Sebenernya inspirasi ini datang di pikiranku sekitar bulan Maret 2 tahun yang lalu, ketika aku menjalani hari-hari internshipku di Cardig International, di kawasan Halim Perdanakusuma. Saat-saat itu aku harus pergi bolak-balik Cikarang Jakarta setiap hari. Internship itu berjalan selama 4 bulan dari 1 Maret hingga 30 Juni.

Satu bulan pertama memang aku memilih untuk naik angkutan 59 dari pintu tol Cikarang dan aku turun di sekitar UKI lalu jalan atau naik ojeg ke kantor. Tapi selama satu bulan pertama ini aku selalu terlambat datang ke kantor. Aku pun memikirkan solusinya supaya tidak terlambat. Aku mencari kamar kos di sekitar kantor, tetapi tidak ada yang cocok, dengan berbagai alasan. Dari kondisi kamar yang tidak nyaman dan harga yang terlalu tinggi, apalagi mereka meminta untuk menyewa kamar kos untuk paling tidak selama 3 bulan, bayar di muka.

Ya, aku tetap mencari solusi lain yang lebih baik dan akhirnya aku memutuskan untuk ikut bis Pak Roso setiap pagi dari kampus, turun Komdak dan naik bis Mayasari P6 turun UKI lalu jalan atau naik angkot atau naik ojeg. Karena kalau dihitung-hitung, aku bisa menyimpan banyak waktu dan aku bisa meluangkan waktu untuk sarapan pagi di warung dekat kantor. Karena meskipun aku harus menuju Komdak setiap pagi, aku bisa sampai di kantor sekitar jam 7. Dibandingkan dengan aku naik angkot 59, yang biasanya aku tidak punya waktu untuk sarapan pagi dan selalu datang terlambat di kantor.

Nah, di bis Pak Roso inilah iinspirasiku datang. Pengalamanku pun bertambah. Karena pada saat itu, banyak sekali non-karyawan Jababeka yang naik bis Pak Roso. Tua muda, laki perempuan. karyawan dan mahasiswa. Semuanya ada dan menjadi satu di bis Pak Roso. Mereka bisa duduk di mana saja mereka mau. Siapa cepat dia dapat tempat duduk.

Mulailah aku berfantasi di sini, dengan kedinamisan penumpangnya yang tidak selalu sama setiap hari. Aku selalu menempati kuri paling depan di dekat pintu keluar masuk. Di situ juga aku sering berganti-ganti pasangan duduk. Berbeda orang dari hari ke hari.

Ya, aku berpikir barangkali ini bisa menjadi pengalaman yang menarik. Atau kalaupun aku tidak bisa mengalaminya sendiri, aku bisa menuliskan buku tentang ini. Cerita tentang seseorang yang harus pulang pergi Cikarang – Jakarta setiap hari (aku rasa dari mana ke mana bukan masalah besar, bisa diimprovisasi) dan dia tergoda untuk melakukan percakapan ataupun monolog pagi dengan dirinya sendiri yang membawanya ke alam bawa sadar. Ke dunia lain di mana dia bisa melakukkan apapun yang dia inginkan.

Perjalanan yang membawanya ke pengalaman seksual yang luar biasa. Berganti-ganti pasangan dengan siapa saja yang duduk di sampingnya, selama perjalanan pulang pergi. Awalnya, dia hanya bercakap dengan dirinya sendiri, lalu dia memulai percakapan dengan teman di sampingnya. Tidak ada perbedaan. Mau laki-laki ataupun perempuan. tua muda, kaya miskin demuanya dia ingin tahu. Dia ingin memuaskan keingintahuannya tentang pengalaman seksual di usia produktifnya.

Mulailah dia bertukar nomer handphone ataupun kartu nama. Untuk sekedar bertemu dan makan siang atau makan malam. Dan ya, mereka mulai ke hal yang lebih sensitif yaitu seks. Dia memang tipe penggoda. Dengan tampang lumayan dam kondisi keuangan yang tidak cukkup jelek di usianya yang masih muda. Jadilah dia lebih punya kesempatan untuk meng-explore keingintahuannya tentang seks.

Hari demi hari, dia mengenal lebih banyak orang, duduk dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan tentunya melakukan hubungan seksual dengan hampir semua yang duduk di sampingnya. Masalah percintaan pun muncul ketika salah seorang dari teman duduknya jatuh cinta dengan nya, dan dengan kehebatannya tentang masalah seks.

Hm…aku masih bingung bagaimana harus mengakhiri cerita ini. Mungkin ini ide bagus untuk dijadikan buku novel atau buku cerita. Karena aku kira, hal ini bisa juga menjadi fenomena kehidupan manusia di kehidupan nyata ini.

Aku ada dua pilihan akhir dari cerita ini:

1. Orang ini akhirnya akan mati karena terjangkit penyakit AIDS karena seringnya berganti-ganti pasangan seks (jadi, buku ini bisa didedikasikan pada saat peringatan hari AIDS sedunia setiap tanggal 1 Desember). Hal ini mengingatkan kita supaya tidak berganti-ganti pasangan, untuk menghindari terjangkitnya penyakit AIDS di kalangan remaja, khususnya di Jakarta (Indonesia).

2. Orang ini akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengalaman dan kehidupan seperti ini dan memilih cintanya pada salah seorang teman duduknya dan setia pada pilihannya.

Mungkin, teman-teman ada saran atau kritik bisa disampaikan.

Hehe, it was just my crazy idea. Tapi tampaknya itu juga bisa terjadi di kehidupan nyata. Who knows? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Barangkali juga ada orang di luar sana yang menjalani kehidupan seperti ini.

Only God knows…

Tour de Banda Aceh – Part 2

Standard

Another evening time in Banda Aceh…

Aku ingin menggunakan waktu satu mingguku di Banda Aceh dengan baik. Aku benar0benar ingin melihat kota Banda Aceh dari dekat, setelah penantian selama 2 tahun untuk pergi ke Banda Aceh untuk membantu korban Tsunami.

Perjalanan kali ini, aku ingin melihat bekas-bekas jejak langkah Tsunami di Banda Aceh. Mobil meluncur ke daerah pinggir pantai kota Banda Aceh menuju Ulee Lheue yang merupakan batas pantai kota Banda Aceh saat ini. Perlu diketahui juga bahwa batas pantai kota Banda Aceh berkurang sejauh 4-5km setelah Tsunami 2004. Batas perairan kini menjorok masuk ke daratan.

Kondisi jalan menuju ke Ulee Lheue memang belum pulih. Banyak rumah-rumah darurat didirikan untuk warga yang rumahnya tersapu oleh Tsunami. kondisi jalan pun masih rusak. kondisi lahan hijau. Namun ketika matahari beranjak masuk kedalam lautan, pemandangan alamnya memang sangat indah. Sejauh mata memandang kulihat perairan dari mana Tsunami datang, dan masih bisa kurasakan kehadirannya pada saat itu, tapi pegunungan yang membujur juga membuat pemandangan jadi begitu indah, dengan sedikit temaram cahaya bintang. Bulan pun bersinar pada malam itu. Hari semakin gelap kitap un menuju ke pelabuhan tempat penyeberangan dengan kapal feri cepat menuju Sabang, kota paling ujung Indonesia. (Sayang aku belum sempat meluangkan waktu ke Sabang, mudah-mudahan lain waktu aku bisa kesana)

Di pelabuhan itu pun terdapat PLTD apung yang terkenal itu, tapi pada saat Tsunami menghantam Aceh, PLTD apung ini terseret sejauh 4km dan terdampar di daratan dan menghancurkan rumah yang ada dibawahnya. Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan PLTD apung ini ke perairan. Rencana pemerintah propinsi, PLTD apung ini akan dijadikan museum sebagai saksi gelombang Tsunami 2004.

Kembali ke Ulee Lheue, di sepanjang garis pantai, pemerintah menempatkan bebatuan yang kabarnya digali dari pegunungan disekitar garis pantai. hal ini digunakan untuk menghalangi air atau gelombang air yang masuk ke daratan. Dan tampaknya sebagai antisipasi untuk meninggikan batas daratan dengan lautan. pembenahan infrastruktur ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Australia. Sebelum Tsunami, tempat ini biasanya dipenuhi orang-orang yang berwisata, biasanya hari Minggu pagi garis pantai ini akan penuh sesak dengan pengunjung. Setelah Tsunami jumlah pengunjung tidak terlalu ramai.

Kita pun kembali melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Banda Aceh. Banyak rumah-rumah darurat yang terbuat dari kayu sumbangan dari pemerintah asing. Ada juga Radio Box sumbangan dari pemerintah Belanda. Sangat unik.

Banda Aceh Kota Nokia

Perjalanan pun berlanjut dengan keliling kota Banda Aceh. Sepanjang perjalanan banyak sekali kulihat gerai Nokia, Nokia dan Nokia. Sekali lagi, Nokia. Dimana-mana kutemukan gerai Nokia. Serasa berada di Helsinki, Finlandia kota asal Nokia. Karena itu kenapa kusebut “Banda Aceh Kota Nokia.” Well, tampaknya menjamurnya gerai Nokia atau pun gerai telekomunikasi di Kota Banda Aceh ini merupakan dampak dari gelombang Tsunami 2004 lalu. Masyarakat merasa penting dengan fasilitas dan sarana komunikasi yang terjangkau dan selallu ada, untuk selalul mengikuti perkembangan dan kondisi terkini dari karib kerabat. Ya, informasi dan komunikasi memang sangat penting saat ini.

ATM BCA di Banda Atjeh

Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, susah sekali mencari ATM BCA di Banda Aceh. aku menemukan beberapa. Satu di kawasan dekat pasar Aceh dan Masjid Baiturrahman. Satu ATM corner yang lebih besar di sekitar Rex. Dan aku kehilangan kartu ATM BCA ku ketika menarik uang di ATM ini. Mungkin terjatuh dan mungkin juga masih tertinggal di mesin ATM. Tapi aku baru menyadari kehilangan kartu ATM BCA ku ketika penerbangan pulang dan transit di bandara Polonia Medan ketika aku akan membeli bolu gulung keju ala Medan. Ya ampun! Untunglah tidak terjadi apa-apa meskipun aku langsung menghubungi Halo BCA untuk pemblokiran kartu. Sekarang aku sudah memililki kartu ATM baru dan ATM Bank Mandiri. In case, di saat perjalanan aku mengalami kesusahan untuk melakukan penarikan melalui rekening BCA.

Itulah, perjalananku di kota Banda Aceh…

Tour de Banda Aceh – Part 1

Standard

Once upon an evening time in Banda Aceh…

Keliling Banda Aceh sore hari memang berbeda ketika kita menikamti perjalanan pagi sambil merasakan sinar matahari terbit yang menghangatkan kulit kita. Jalanan memang tampak naik turun. Infrastruktur belum demikian pulih setelah Tsunami menghantam Banda Aceh.

Kita berkeliling kota Banda Aceh melewati lapangan Blang Padang – tempat mendaratnya helikopter bantuan untuk korban Tsunami tahun 2004 lalu. Kita melewati ikon kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, sayang kita tidak sempat masuk dan mengambil foto, hanya melintas dan berputar melewati pasar Atjeh yang lumayan ramai dan padat dengan kerumunan orang-orang. Menyenangkan sekali menikmati kota Banda Aceh pada malam hari. Kita juga melewati sungai dan jembatan Pante Pirak yang menjadi saksi bisu korban bencana alam Tsunami.

Malam minggu pertama, kulalui dengan berkeliling kota Banda Aceh dengan mengendarai motor. Menyenagkan! banyak sekali pengendara motor yang berkeliling kota menikmati malam panjang dengan angin semilir-semilir bertiup menghempas wajahku tanpa menggunakan helm.

Di Banda Aceh, dari yang aku tahu pengendara motor tidak harus mengenakan helm pada malam hari. Bilapun mereka mengenakan helm, itu hanya si pengendara, orang yang di belakang tidak perlu mengenakan helm. Dan dari pengamatanku, banyak sekali sepeda motor yang tidak dilengkapi dengan kaca spion.

Labi-Labi

Tampak Labi-Labi atau angkutan umum khas Banda Aceh. Mobil berbadan besar berwarna hitam dengan pintu masuk di bagian belakang mobil, hampir mirip seperti oplet si Mandra, tetapi bagian depan tidak terlalu moncong. Yang membedakannya hanyalah nomer yang tertulis di badan labi-labi, yang menunjukkan arah dan tujuan perjalanan, ada nomer 03, 05, 08 dan lasin sebagainya. Tampaknya ini memang sarana transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Dengan tarif jauh dekat cukup murah Rp 2,000 sekali naik, membuat labi-labi digemari untuk bertransportasi.

Rex: Food Promenade

Setelah puas berkeliling kota Banda Aceh dan ketika matahari mulai tenggelam dan bintang sudah memancarkan sinarnya. Malam itu kota Banda Aceh memang tampak cerah dan raman. Langit bertaburan bintang seperti salah satu tempat makan dan tempat nongkrong yang tidak boleh dilewatkan untuk disinggahi ketika kita di Kota Banda Aceh, Rex (atau Reg atau Rek?!) yang berhiaskan cahaya lampu warung-warung yang berjajar di sekitar area pusat makanan di Banda Aceh. (Kalau di Jakarta, mungkin seperti daerah Jalan Sabang atau Kafe Taman Semanggi).

Kata rex sendiri konon berasal dari orang-orang Aceh zaman penjajahan Belanda yang pada saat itu ada jalur kereta api, trem yang melintasi kota Banda Aceh. Nah, jalan trem ini yang seharusnya disebut rel oleh orang Aceh pada saat itu disebut rek, karena perbedaan pengucapan. Pusat makanan ini berada di lapangan luas yang dulunya terdapat jalur trem pada zaman Belanda dulu, akhirnya tempat ini disebut Rex (mereka sendiri juga bingung bagaimana penulisan yang benar).

Di Rex kita bisa mencoba berbagai makanan khas Aceh. Aku sendiri memesan martabak Mesir ala Aceh. layaknya masakan Aceh, martabak Mesir ini juga ditaburi irisan bawang merah untuk menambah aroma dan kekhasan masakan Aceh. Memang enak sekali ditambah suasananya yang menyenangkan dan nyaman. Tidak jauh beda dengan kondisi tempat makan di Jakarta, banyak sekali pengemis yang datang menghampiri untuk mengharapkan belas kasih dari para tamu. (Memang sedikit menggangu kenyamanan, tapi bagaimana lagi?)

Sate Matang

Tidak jauh dari lapangan makan, Rex, kita bisa menemukan beberapa warung sate matang – khas Aceh. Sate ini sekilas tidak berbeda dengan sate lain pada umumnya. hal yang membedakannya adalah penyajian dan menu pendamping lainnya, termasuk cara pembuatannya. Sebenarnya sama seperti pembuatan sate lainnya, dibakar, dikipas hinga matang. yang membedakannya adalah si pemasak sate matang ini. Untuk memberikan kekhasan, mereka memukulkan botol minyak ke meja hingga menimbulkan suara ‘gedog’ yang keras yang membuat pembeli terhibur sembari menunggu sate matang dihidangkan.

Sate matang dihidangkan dengan nasi terpisah, dan bumbu kacang yang khas di piring terpisah dan juga sup dengan irisan daging kambing dengan aroma khas Aceh. Selain itu juga disediakan jeruk nipis untuk menambah kesedapan rasa sate matang. Harga satu porsi dengan minuman teh atau jeruk setengah panas (begitu orang Aceh mengatakan hangat) kurang lebih sekitar Rp 15,000 – Rp 20,000.

Toko cinderamata

Di dekat warung sate matang ini, berjalan sekitar 2 menit, kita akan menemukan toko suvenir khas Aceh. Di sini kita bisa menemukan semua cinderamata khas Aceh mulai dari gantungan kunci Aceh hingga kopi Aceh dengan harga yang murah. Harga bisa ditawar, dan menurutku penjualnya cukup jujur dan tidak memainkan harga. Fair enough. Kita disambut dengan ramah dan bahkan kita juga sempat berfoto dengan si penjual di toko mereka. Aku tidak belanja terlalu banyak, hanya beberapa gantungan kunci dan bros dengan harga yang reasonable.

Well, it was one evening Tour de Banda Aceh…Unforgettable!

Roti Cane Abu Nek – Simpang Lima

Standard

Cane, cane…

Setelah menikmati keharuman kopi di Ulee Kareng, kami langsung meluncur menjelajahi kota Banda Aceh dan kita mencari Roti Cane yang paling enak di Banda Aceh.

Wisata kuliner de Banda Aceh…

Setelah berputar di bundaran Simpang Lima, kita meminggirkan mobil dan parkir di dekat warung tenda Roti Cane Abu Nek (secara harfiah artinya kuang lebih Ayahnya nenek – begitu kata salah seorang teman yang mendampingi kami berjalan keliling kota Banda Aceh).

Roti cane Aceh memang berbeda, tidak sebesar yang biasa aku makan di Jakarta dan rasanya lebih manis dari yang biasanya aku makan. Dengan berbagai pilihan rasa susu, coklat, kacang, keju dan campur. Dengan ukuran diameter sekitar 8 cm dan lebih tebal dari yang biasa aku makan. Gigitan pertama begitu menggoda, terasa sangat manis dan pekat, tampakanya bahannya khas.

Pertama, warung roti cane ini tampak sepi hanya kami berlima yang duduk di warung tenda khas kota Banda Aceh. Tidak lama kemudian, beberapa sepeda motor menepi dan memesan roti cane untuk dimakan di tempat ataupun di bawa pulang. Bahkan pengendara mobil pun ramai berhenti di warung roti cane Abu Nek di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh yang letaknya di seberang jalan restoran cepat saji KFC. Persaingan bebas: masakan tradisional dengan masakan modern cepat saji.

Tentu saja roti cane Aceh masih memiliki banyak penggemar. Awalnya warung tenda ini begitu sepi, tapi dengan berjalannya waktu semakin banyak orang yang menjadi pelanggan tetap warung roti cane yang kabarnya bisnis ini dijalankan turun temurun oleh anggota keluarga.

So, jangan lupa mampir ke Roti Cane Abu Nek di Simpang Lima, Banda Aceh bila kalian singgah ke kota Darussalam ini.

Kedai Kopi Simpang Tujuh – Ulee Kareng

Standard

Konon katanya orang-orang Aceh suka berkumpul dan meluangkan sebagian besar waktunya di kedai kopi bersama teman-teman dan kerabat mereka untuk membicarakan banyak hal dari masalah keluarga hingga menyusun strategi perang. Benar ngga sih?

Ternyata memang benar. Ketika aku berkunjung ke salah satu kedai kopi di daerah simpang tujuh, Banda Aceh atau yang lebih dikenal dengan ulee kareung (aku ngga yakin apakah penulisannya benar) banyak orang berkumpul di kedai kopi yang lumayan besar itu. Kubuka pintu mobil dan kulangkahkan kakiku setapak demi setapak masuk ke kedai kopi itu, aroma harumnya sudah tercium sedap.

Disini kita akan banyak menemui orang-orang dengan wajah tipikal Aceh, dengan garis wajah Arab dan India yang dominan. Dari remaja sampai orang-orang tua duduk berbincang dengan teman kerabat mereka, bercanda dan tertawa membicarakan banyak hal dan menceritakan joke untuk menyegarkan suasana.

Di Aceh, bisa kita temui kedia-kedai kopi yang besar, bahkan lebih besar dari kafe Starbucks yang ada di Jakarta. Ada kemungkinan juga perputaran uagn disini lebih besar dibandingkan perputaran uang di kafe atau kedai kopi di ibukota. Bayangkan saja, tidak hanya menikmati kopi tapi terkadang terjadi transaksi bisnis di kedai kopi di Aceh. Dari transaksi penjualan kereta (sepeda motor) sampai mobil.

Di sini juga disediakan berbagai jajanan pasar ala Aceh, mulai dari bika Aceh sampai srikaya Aceh. Aku juga akhirnya tergiur untuk mencoba mie kocok Aceh, ternyata memang enak dan pedas!! Membuat keringatku bercucuran, tapi memang kebanyakan masakan Aceh pedas dan ada ciri khas yang menonjol yaitu taburan bawang merah di atas masakan (kebanyakan masakan tapi tidak semua) untuk menambah aroma masakannya.

Aku juga mencoba kopi Aceh yang terkenal dengan aromanya yang khas, harum. Kopi setengah panas kental manis. Rasanya tidak beda dengan kopi pada umumnya, tapi khasiat dan efeknya setelah kita minum memang luar biasa, seperti minuman berenergi.

Big Smoke Jakarta

Standard

Jakarta: the Big Smoke of Indonesia…

I first time came to this capital city of Indonesia in 1993 when I was around 10 years old. The first impression I got was so hectic, stressful, disordered and a lot more bad things about the city. I told myself that I would never come back here again.

But what? now I am living and working in Jakarta for almost five months. Fortunately, I will return to Cikarang when the internship programme in UNESCO Jakarta ends on January 31. Thankfully.

In this category I’ll tell you more about Jakarta, the people, the real situation and conditions, the places I visited, etc.

If you are curious to know more about Jakarta, stay tuned here, I’ll write more.

Cheers, Reiza

Living In the “Hero” City of Surabaya

Standard

Surabaya, Surabaya, oh Surabaya…

Quite popular song of Surabaya. In this category I’ll tell you all about my life in Surabaya, where I was born, where I earned my education levels and a lot more stories about this Indonesia’s second largest city after Jakarta.

The story behind why I eventually decided to leave Surabaya and move to Cikarang – the next destination.

If you are interested in finding more about this city, you can keep yourself updated and stay tuned in this category. I’ll come up more with illuminating and very thought provoking stories about this Hero City.

Cheers, Reiza