Daily Archives: January 30, 2007

Tour de Banda Aceh – Part 2

Standard

Another evening time in Banda Aceh…

Aku ingin menggunakan waktu satu mingguku di Banda Aceh dengan baik. Aku benar0benar ingin melihat kota Banda Aceh dari dekat, setelah penantian selama 2 tahun untuk pergi ke Banda Aceh untuk membantu korban Tsunami.

Perjalanan kali ini, aku ingin melihat bekas-bekas jejak langkah Tsunami di Banda Aceh. Mobil meluncur ke daerah pinggir pantai kota Banda Aceh menuju Ulee Lheue yang merupakan batas pantai kota Banda Aceh saat ini. Perlu diketahui juga bahwa batas pantai kota Banda Aceh berkurang sejauh 4-5km setelah Tsunami 2004. Batas perairan kini menjorok masuk ke daratan.

Kondisi jalan menuju ke Ulee Lheue memang belum pulih. Banyak rumah-rumah darurat didirikan untuk warga yang rumahnya tersapu oleh Tsunami. kondisi jalan pun masih rusak. kondisi lahan hijau. Namun ketika matahari beranjak masuk kedalam lautan, pemandangan alamnya memang sangat indah. Sejauh mata memandang kulihat perairan dari mana Tsunami datang, dan masih bisa kurasakan kehadirannya pada saat itu, tapi pegunungan yang membujur juga membuat pemandangan jadi begitu indah, dengan sedikit temaram cahaya bintang. Bulan pun bersinar pada malam itu. Hari semakin gelap kitap un menuju ke pelabuhan tempat penyeberangan dengan kapal feri cepat menuju Sabang, kota paling ujung Indonesia. (Sayang aku belum sempat meluangkan waktu ke Sabang, mudah-mudahan lain waktu aku bisa kesana)

Di pelabuhan itu pun terdapat PLTD apung yang terkenal itu, tapi pada saat Tsunami menghantam Aceh, PLTD apung ini terseret sejauh 4km dan terdampar di daratan dan menghancurkan rumah yang ada dibawahnya. Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan PLTD apung ini ke perairan. Rencana pemerintah propinsi, PLTD apung ini akan dijadikan museum sebagai saksi gelombang Tsunami 2004.

Kembali ke Ulee Lheue, di sepanjang garis pantai, pemerintah menempatkan bebatuan yang kabarnya digali dari pegunungan disekitar garis pantai. hal ini digunakan untuk menghalangi air atau gelombang air yang masuk ke daratan. Dan tampaknya sebagai antisipasi untuk meninggikan batas daratan dengan lautan. pembenahan infrastruktur ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Australia. Sebelum Tsunami, tempat ini biasanya dipenuhi orang-orang yang berwisata, biasanya hari Minggu pagi garis pantai ini akan penuh sesak dengan pengunjung. Setelah Tsunami jumlah pengunjung tidak terlalu ramai.

Kita pun kembali melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Banda Aceh. Banyak rumah-rumah darurat yang terbuat dari kayu sumbangan dari pemerintah asing. Ada juga Radio Box sumbangan dari pemerintah Belanda. Sangat unik.

Banda Aceh Kota Nokia

Perjalanan pun berlanjut dengan keliling kota Banda Aceh. Sepanjang perjalanan banyak sekali kulihat gerai Nokia, Nokia dan Nokia. Sekali lagi, Nokia. Dimana-mana kutemukan gerai Nokia. Serasa berada di Helsinki, Finlandia kota asal Nokia. Karena itu kenapa kusebut “Banda Aceh Kota Nokia.” Well, tampaknya menjamurnya gerai Nokia atau pun gerai telekomunikasi di Kota Banda Aceh ini merupakan dampak dari gelombang Tsunami 2004 lalu. Masyarakat merasa penting dengan fasilitas dan sarana komunikasi yang terjangkau dan selallu ada, untuk selalul mengikuti perkembangan dan kondisi terkini dari karib kerabat. Ya, informasi dan komunikasi memang sangat penting saat ini.

ATM BCA di Banda Atjeh

Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, susah sekali mencari ATM BCA di Banda Aceh. aku menemukan beberapa. Satu di kawasan dekat pasar Aceh dan Masjid Baiturrahman. Satu ATM corner yang lebih besar di sekitar Rex. Dan aku kehilangan kartu ATM BCA ku ketika menarik uang di ATM ini. Mungkin terjatuh dan mungkin juga masih tertinggal di mesin ATM. Tapi aku baru menyadari kehilangan kartu ATM BCA ku ketika penerbangan pulang dan transit di bandara Polonia Medan ketika aku akan membeli bolu gulung keju ala Medan. Ya ampun! Untunglah tidak terjadi apa-apa meskipun aku langsung menghubungi Halo BCA untuk pemblokiran kartu. Sekarang aku sudah memililki kartu ATM baru dan ATM Bank Mandiri. In case, di saat perjalanan aku mengalami kesusahan untuk melakukan penarikan melalui rekening BCA.

Itulah, perjalananku di kota Banda Aceh…

Tour de Banda Aceh – Part 1

Standard

Once upon an evening time in Banda Aceh…

Keliling Banda Aceh sore hari memang berbeda ketika kita menikamti perjalanan pagi sambil merasakan sinar matahari terbit yang menghangatkan kulit kita. Jalanan memang tampak naik turun. Infrastruktur belum demikian pulih setelah Tsunami menghantam Banda Aceh.

Kita berkeliling kota Banda Aceh melewati lapangan Blang Padang – tempat mendaratnya helikopter bantuan untuk korban Tsunami tahun 2004 lalu. Kita melewati ikon kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, sayang kita tidak sempat masuk dan mengambil foto, hanya melintas dan berputar melewati pasar Atjeh yang lumayan ramai dan padat dengan kerumunan orang-orang. Menyenangkan sekali menikmati kota Banda Aceh pada malam hari. Kita juga melewati sungai dan jembatan Pante Pirak yang menjadi saksi bisu korban bencana alam Tsunami.

Malam minggu pertama, kulalui dengan berkeliling kota Banda Aceh dengan mengendarai motor. Menyenagkan! banyak sekali pengendara motor yang berkeliling kota menikmati malam panjang dengan angin semilir-semilir bertiup menghempas wajahku tanpa menggunakan helm.

Di Banda Aceh, dari yang aku tahu pengendara motor tidak harus mengenakan helm pada malam hari. Bilapun mereka mengenakan helm, itu hanya si pengendara, orang yang di belakang tidak perlu mengenakan helm. Dan dari pengamatanku, banyak sekali sepeda motor yang tidak dilengkapi dengan kaca spion.

Labi-Labi

Tampak Labi-Labi atau angkutan umum khas Banda Aceh. Mobil berbadan besar berwarna hitam dengan pintu masuk di bagian belakang mobil, hampir mirip seperti oplet si Mandra, tetapi bagian depan tidak terlalu moncong. Yang membedakannya hanyalah nomer yang tertulis di badan labi-labi, yang menunjukkan arah dan tujuan perjalanan, ada nomer 03, 05, 08 dan lasin sebagainya. Tampaknya ini memang sarana transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Dengan tarif jauh dekat cukup murah Rp 2,000 sekali naik, membuat labi-labi digemari untuk bertransportasi.

Rex: Food Promenade

Setelah puas berkeliling kota Banda Aceh dan ketika matahari mulai tenggelam dan bintang sudah memancarkan sinarnya. Malam itu kota Banda Aceh memang tampak cerah dan raman. Langit bertaburan bintang seperti salah satu tempat makan dan tempat nongkrong yang tidak boleh dilewatkan untuk disinggahi ketika kita di Kota Banda Aceh, Rex (atau Reg atau Rek?!) yang berhiaskan cahaya lampu warung-warung yang berjajar di sekitar area pusat makanan di Banda Aceh. (Kalau di Jakarta, mungkin seperti daerah Jalan Sabang atau Kafe Taman Semanggi).

Kata rex sendiri konon berasal dari orang-orang Aceh zaman penjajahan Belanda yang pada saat itu ada jalur kereta api, trem yang melintasi kota Banda Aceh. Nah, jalan trem ini yang seharusnya disebut rel oleh orang Aceh pada saat itu disebut rek, karena perbedaan pengucapan. Pusat makanan ini berada di lapangan luas yang dulunya terdapat jalur trem pada zaman Belanda dulu, akhirnya tempat ini disebut Rex (mereka sendiri juga bingung bagaimana penulisan yang benar).

Di Rex kita bisa mencoba berbagai makanan khas Aceh. Aku sendiri memesan martabak Mesir ala Aceh. layaknya masakan Aceh, martabak Mesir ini juga ditaburi irisan bawang merah untuk menambah aroma dan kekhasan masakan Aceh. Memang enak sekali ditambah suasananya yang menyenangkan dan nyaman. Tidak jauh beda dengan kondisi tempat makan di Jakarta, banyak sekali pengemis yang datang menghampiri untuk mengharapkan belas kasih dari para tamu. (Memang sedikit menggangu kenyamanan, tapi bagaimana lagi?)

Sate Matang

Tidak jauh dari lapangan makan, Rex, kita bisa menemukan beberapa warung sate matang – khas Aceh. Sate ini sekilas tidak berbeda dengan sate lain pada umumnya. hal yang membedakannya adalah penyajian dan menu pendamping lainnya, termasuk cara pembuatannya. Sebenarnya sama seperti pembuatan sate lainnya, dibakar, dikipas hinga matang. yang membedakannya adalah si pemasak sate matang ini. Untuk memberikan kekhasan, mereka memukulkan botol minyak ke meja hingga menimbulkan suara ‘gedog’ yang keras yang membuat pembeli terhibur sembari menunggu sate matang dihidangkan.

Sate matang dihidangkan dengan nasi terpisah, dan bumbu kacang yang khas di piring terpisah dan juga sup dengan irisan daging kambing dengan aroma khas Aceh. Selain itu juga disediakan jeruk nipis untuk menambah kesedapan rasa sate matang. Harga satu porsi dengan minuman teh atau jeruk setengah panas (begitu orang Aceh mengatakan hangat) kurang lebih sekitar Rp 15,000 – Rp 20,000.

Toko cinderamata

Di dekat warung sate matang ini, berjalan sekitar 2 menit, kita akan menemukan toko suvenir khas Aceh. Di sini kita bisa menemukan semua cinderamata khas Aceh mulai dari gantungan kunci Aceh hingga kopi Aceh dengan harga yang murah. Harga bisa ditawar, dan menurutku penjualnya cukup jujur dan tidak memainkan harga. Fair enough. Kita disambut dengan ramah dan bahkan kita juga sempat berfoto dengan si penjual di toko mereka. Aku tidak belanja terlalu banyak, hanya beberapa gantungan kunci dan bros dengan harga yang reasonable.

Well, it was one evening Tour de Banda Aceh…Unforgettable!

Roti Cane Abu Nek – Simpang Lima

Standard

Cane, cane…

Setelah menikmati keharuman kopi di Ulee Kareng, kami langsung meluncur menjelajahi kota Banda Aceh dan kita mencari Roti Cane yang paling enak di Banda Aceh.

Wisata kuliner de Banda Aceh…

Setelah berputar di bundaran Simpang Lima, kita meminggirkan mobil dan parkir di dekat warung tenda Roti Cane Abu Nek (secara harfiah artinya kuang lebih Ayahnya nenek – begitu kata salah seorang teman yang mendampingi kami berjalan keliling kota Banda Aceh).

Roti cane Aceh memang berbeda, tidak sebesar yang biasa aku makan di Jakarta dan rasanya lebih manis dari yang biasanya aku makan. Dengan berbagai pilihan rasa susu, coklat, kacang, keju dan campur. Dengan ukuran diameter sekitar 8 cm dan lebih tebal dari yang biasa aku makan. Gigitan pertama begitu menggoda, terasa sangat manis dan pekat, tampakanya bahannya khas.

Pertama, warung roti cane ini tampak sepi hanya kami berlima yang duduk di warung tenda khas kota Banda Aceh. Tidak lama kemudian, beberapa sepeda motor menepi dan memesan roti cane untuk dimakan di tempat ataupun di bawa pulang. Bahkan pengendara mobil pun ramai berhenti di warung roti cane Abu Nek di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh yang letaknya di seberang jalan restoran cepat saji KFC. Persaingan bebas: masakan tradisional dengan masakan modern cepat saji.

Tentu saja roti cane Aceh masih memiliki banyak penggemar. Awalnya warung tenda ini begitu sepi, tapi dengan berjalannya waktu semakin banyak orang yang menjadi pelanggan tetap warung roti cane yang kabarnya bisnis ini dijalankan turun temurun oleh anggota keluarga.

So, jangan lupa mampir ke Roti Cane Abu Nek di Simpang Lima, Banda Aceh bila kalian singgah ke kota Darussalam ini.

Kedai Kopi Simpang Tujuh – Ulee Kareng

Standard

Konon katanya orang-orang Aceh suka berkumpul dan meluangkan sebagian besar waktunya di kedai kopi bersama teman-teman dan kerabat mereka untuk membicarakan banyak hal dari masalah keluarga hingga menyusun strategi perang. Benar ngga sih?

Ternyata memang benar. Ketika aku berkunjung ke salah satu kedai kopi di daerah simpang tujuh, Banda Aceh atau yang lebih dikenal dengan ulee kareung (aku ngga yakin apakah penulisannya benar) banyak orang berkumpul di kedai kopi yang lumayan besar itu. Kubuka pintu mobil dan kulangkahkan kakiku setapak demi setapak masuk ke kedai kopi itu, aroma harumnya sudah tercium sedap.

Disini kita akan banyak menemui orang-orang dengan wajah tipikal Aceh, dengan garis wajah Arab dan India yang dominan. Dari remaja sampai orang-orang tua duduk berbincang dengan teman kerabat mereka, bercanda dan tertawa membicarakan banyak hal dan menceritakan joke untuk menyegarkan suasana.

Di Aceh, bisa kita temui kedia-kedai kopi yang besar, bahkan lebih besar dari kafe Starbucks yang ada di Jakarta. Ada kemungkinan juga perputaran uagn disini lebih besar dibandingkan perputaran uang di kafe atau kedai kopi di ibukota. Bayangkan saja, tidak hanya menikmati kopi tapi terkadang terjadi transaksi bisnis di kedai kopi di Aceh. Dari transaksi penjualan kereta (sepeda motor) sampai mobil.

Di sini juga disediakan berbagai jajanan pasar ala Aceh, mulai dari bika Aceh sampai srikaya Aceh. Aku juga akhirnya tergiur untuk mencoba mie kocok Aceh, ternyata memang enak dan pedas!! Membuat keringatku bercucuran, tapi memang kebanyakan masakan Aceh pedas dan ada ciri khas yang menonjol yaitu taburan bawang merah di atas masakan (kebanyakan masakan tapi tidak semua) untuk menambah aroma masakannya.

Aku juga mencoba kopi Aceh yang terkenal dengan aromanya yang khas, harum. Kopi setengah panas kental manis. Rasanya tidak beda dengan kopi pada umumnya, tapi khasiat dan efeknya setelah kita minum memang luar biasa, seperti minuman berenergi.