Tour de Banda Aceh – Part 1

Standard

Once upon an evening time in Banda Aceh…

Keliling Banda Aceh sore hari memang berbeda ketika kita menikamti perjalanan pagi sambil merasakan sinar matahari terbit yang menghangatkan kulit kita. Jalanan memang tampak naik turun. Infrastruktur belum demikian pulih setelah Tsunami menghantam Banda Aceh.

Kita berkeliling kota Banda Aceh melewati lapangan Blang Padang – tempat mendaratnya helikopter bantuan untuk korban Tsunami tahun 2004 lalu. Kita melewati ikon kota Banda Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, sayang kita tidak sempat masuk dan mengambil foto, hanya melintas dan berputar melewati pasar Atjeh yang lumayan ramai dan padat dengan kerumunan orang-orang. Menyenangkan sekali menikmati kota Banda Aceh pada malam hari. Kita juga melewati sungai dan jembatan Pante Pirak yang menjadi saksi bisu korban bencana alam Tsunami.

Malam minggu pertama, kulalui dengan berkeliling kota Banda Aceh dengan mengendarai motor. Menyenagkan! banyak sekali pengendara motor yang berkeliling kota menikmati malam panjang dengan angin semilir-semilir bertiup menghempas wajahku tanpa menggunakan helm.

Di Banda Aceh, dari yang aku tahu pengendara motor tidak harus mengenakan helm pada malam hari. Bilapun mereka mengenakan helm, itu hanya si pengendara, orang yang di belakang tidak perlu mengenakan helm. Dan dari pengamatanku, banyak sekali sepeda motor yang tidak dilengkapi dengan kaca spion.

Labi-Labi

Tampak Labi-Labi atau angkutan umum khas Banda Aceh. Mobil berbadan besar berwarna hitam dengan pintu masuk di bagian belakang mobil, hampir mirip seperti oplet si Mandra, tetapi bagian depan tidak terlalu moncong. Yang membedakannya hanyalah nomer yang tertulis di badan labi-labi, yang menunjukkan arah dan tujuan perjalanan, ada nomer 03, 05, 08 dan lasin sebagainya. Tampaknya ini memang sarana transportasi yang banyak digunakan oleh masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya. Dengan tarif jauh dekat cukup murah Rp 2,000 sekali naik, membuat labi-labi digemari untuk bertransportasi.

Rex: Food Promenade

Setelah puas berkeliling kota Banda Aceh dan ketika matahari mulai tenggelam dan bintang sudah memancarkan sinarnya. Malam itu kota Banda Aceh memang tampak cerah dan raman. Langit bertaburan bintang seperti salah satu tempat makan dan tempat nongkrong yang tidak boleh dilewatkan untuk disinggahi ketika kita di Kota Banda Aceh, Rex (atau Reg atau Rek?!) yang berhiaskan cahaya lampu warung-warung yang berjajar di sekitar area pusat makanan di Banda Aceh. (Kalau di Jakarta, mungkin seperti daerah Jalan Sabang atau Kafe Taman Semanggi).

Kata rex sendiri konon berasal dari orang-orang Aceh zaman penjajahan Belanda yang pada saat itu ada jalur kereta api, trem yang melintasi kota Banda Aceh. Nah, jalan trem ini yang seharusnya disebut rel oleh orang Aceh pada saat itu disebut rek, karena perbedaan pengucapan. Pusat makanan ini berada di lapangan luas yang dulunya terdapat jalur trem pada zaman Belanda dulu, akhirnya tempat ini disebut Rex (mereka sendiri juga bingung bagaimana penulisan yang benar).

Di Rex kita bisa mencoba berbagai makanan khas Aceh. Aku sendiri memesan martabak Mesir ala Aceh. layaknya masakan Aceh, martabak Mesir ini juga ditaburi irisan bawang merah untuk menambah aroma dan kekhasan masakan Aceh. Memang enak sekali ditambah suasananya yang menyenangkan dan nyaman. Tidak jauh beda dengan kondisi tempat makan di Jakarta, banyak sekali pengemis yang datang menghampiri untuk mengharapkan belas kasih dari para tamu. (Memang sedikit menggangu kenyamanan, tapi bagaimana lagi?)

Sate Matang

Tidak jauh dari lapangan makan, Rex, kita bisa menemukan beberapa warung sate matang – khas Aceh. Sate ini sekilas tidak berbeda dengan sate lain pada umumnya. hal yang membedakannya adalah penyajian dan menu pendamping lainnya, termasuk cara pembuatannya. Sebenarnya sama seperti pembuatan sate lainnya, dibakar, dikipas hinga matang. yang membedakannya adalah si pemasak sate matang ini. Untuk memberikan kekhasan, mereka memukulkan botol minyak ke meja hingga menimbulkan suara ‘gedog’ yang keras yang membuat pembeli terhibur sembari menunggu sate matang dihidangkan.

Sate matang dihidangkan dengan nasi terpisah, dan bumbu kacang yang khas di piring terpisah dan juga sup dengan irisan daging kambing dengan aroma khas Aceh. Selain itu juga disediakan jeruk nipis untuk menambah kesedapan rasa sate matang. Harga satu porsi dengan minuman teh atau jeruk setengah panas (begitu orang Aceh mengatakan hangat) kurang lebih sekitar Rp 15,000 – Rp 20,000.

Toko cinderamata

Di dekat warung sate matang ini, berjalan sekitar 2 menit, kita akan menemukan toko suvenir khas Aceh. Di sini kita bisa menemukan semua cinderamata khas Aceh mulai dari gantungan kunci Aceh hingga kopi Aceh dengan harga yang murah. Harga bisa ditawar, dan menurutku penjualnya cukup jujur dan tidak memainkan harga. Fair enough. Kita disambut dengan ramah dan bahkan kita juga sempat berfoto dengan si penjual di toko mereka. Aku tidak belanja terlalu banyak, hanya beberapa gantungan kunci dan bros dengan harga yang reasonable.

Well, it was one evening Tour de Banda Aceh…Unforgettable!

About Mohammad Reiza

I first started blogging on wordpress in November 2006 that you can find at mohammadreiza.com and later in January 2007 I added another blog at reizamohammad.wordpress.com and I just recently added another blog in May 2013 at reizamonologues.wordpress.com

3 responses »

  1. Rini,

    Thank you. Iya, ini khan juga dari support dan doa kamu juga. Kan sebelum berangkat aku minta doa dari kamu. Alhamdulillah semuanya lancar dan berhasil. Nanti aku ceritakan lagi kalau ketemu ya. Sama aku tunjukkin foto-foto selama disana.

    Cu, Reiza.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s