Monolog Pagi

Standard

Well,

Sebenernya inspirasi ini datang di pikiranku sekitar bulan Maret 2 tahun yang lalu, ketika aku menjalani hari-hari internshipku di Cardig International, di kawasan Halim Perdanakusuma. Saat-saat itu aku harus pergi bolak-balik Cikarang Jakarta setiap hari. Internship itu berjalan selama 4 bulan dari 1 Maret hingga 30 Juni.

Satu bulan pertama memang aku memilih untuk naik angkutan 59 dari pintu tol Cikarang dan aku turun di sekitar UKI lalu jalan atau naik ojeg ke kantor. Tapi selama satu bulan pertama ini aku selalu terlambat datang ke kantor. Aku pun memikirkan solusinya supaya tidak terlambat. Aku mencari kamar kos di sekitar kantor, tetapi tidak ada yang cocok, dengan berbagai alasan. Dari kondisi kamar yang tidak nyaman dan harga yang terlalu tinggi, apalagi mereka meminta untuk menyewa kamar kos untuk paling tidak selama 3 bulan, bayar di muka.

Ya, aku tetap mencari solusi lain yang lebih baik dan akhirnya aku memutuskan untuk ikut bis Pak Roso setiap pagi dari kampus, turun Komdak dan naik bis Mayasari P6 turun UKI lalu jalan atau naik angkot atau naik ojeg. Karena kalau dihitung-hitung, aku bisa menyimpan banyak waktu dan aku bisa meluangkan waktu untuk sarapan pagi di warung dekat kantor. Karena meskipun aku harus menuju Komdak setiap pagi, aku bisa sampai di kantor sekitar jam 7. Dibandingkan dengan aku naik angkot 59, yang biasanya aku tidak punya waktu untuk sarapan pagi dan selalu datang terlambat di kantor.

Nah, di bis Pak Roso inilah iinspirasiku datang. Pengalamanku pun bertambah. Karena pada saat itu, banyak sekali non-karyawan Jababeka yang naik bis Pak Roso. Tua muda, laki perempuan. karyawan dan mahasiswa. Semuanya ada dan menjadi satu di bis Pak Roso. Mereka bisa duduk di mana saja mereka mau. Siapa cepat dia dapat tempat duduk.

Mulailah aku berfantasi di sini, dengan kedinamisan penumpangnya yang tidak selalu sama setiap hari. Aku selalu menempati kuri paling depan di dekat pintu keluar masuk. Di situ juga aku sering berganti-ganti pasangan duduk. Berbeda orang dari hari ke hari.

Ya, aku berpikir barangkali ini bisa menjadi pengalaman yang menarik. Atau kalaupun aku tidak bisa mengalaminya sendiri, aku bisa menuliskan buku tentang ini. Cerita tentang seseorang yang harus pulang pergi Cikarang – Jakarta setiap hari (aku rasa dari mana ke mana bukan masalah besar, bisa diimprovisasi) dan dia tergoda untuk melakukan percakapan ataupun monolog pagi dengan dirinya sendiri yang membawanya ke alam bawa sadar. Ke dunia lain di mana dia bisa melakukkan apapun yang dia inginkan.

Perjalanan yang membawanya ke pengalaman seksual yang luar biasa. Berganti-ganti pasangan dengan siapa saja yang duduk di sampingnya, selama perjalanan pulang pergi. Awalnya, dia hanya bercakap dengan dirinya sendiri, lalu dia memulai percakapan dengan teman di sampingnya. Tidak ada perbedaan. Mau laki-laki ataupun perempuan. tua muda, kaya miskin demuanya dia ingin tahu. Dia ingin memuaskan keingintahuannya tentang pengalaman seksual di usia produktifnya.

Mulailah dia bertukar nomer handphone ataupun kartu nama. Untuk sekedar bertemu dan makan siang atau makan malam. Dan ya, mereka mulai ke hal yang lebih sensitif yaitu seks. Dia memang tipe penggoda. Dengan tampang lumayan dam kondisi keuangan yang tidak cukkup jelek di usianya yang masih muda. Jadilah dia lebih punya kesempatan untuk meng-explore keingintahuannya tentang seks.

Hari demi hari, dia mengenal lebih banyak orang, duduk dengan orang yang berbeda-beda setiap harinya dan tentunya melakukan hubungan seksual dengan hampir semua yang duduk di sampingnya. Masalah percintaan pun muncul ketika salah seorang dari teman duduknya jatuh cinta dengan nya, dan dengan kehebatannya tentang masalah seks.

Hm…aku masih bingung bagaimana harus mengakhiri cerita ini. Mungkin ini ide bagus untuk dijadikan buku novel atau buku cerita. Karena aku kira, hal ini bisa juga menjadi fenomena kehidupan manusia di kehidupan nyata ini.

Aku ada dua pilihan akhir dari cerita ini:

1. Orang ini akhirnya akan mati karena terjangkit penyakit AIDS karena seringnya berganti-ganti pasangan seks (jadi, buku ini bisa didedikasikan pada saat peringatan hari AIDS sedunia setiap tanggal 1 Desember). Hal ini mengingatkan kita supaya tidak berganti-ganti pasangan, untuk menghindari terjangkitnya penyakit AIDS di kalangan remaja, khususnya di Jakarta (Indonesia).

2. Orang ini akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengalaman dan kehidupan seperti ini dan memilih cintanya pada salah seorang teman duduknya dan setia pada pilihannya.

Mungkin, teman-teman ada saran atau kritik bisa disampaikan.

Hehe, it was just my crazy idea. Tapi tampaknya itu juga bisa terjadi di kehidupan nyata. Who knows? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Barangkali juga ada orang di luar sana yang menjalani kehidupan seperti ini.

Only God knows…

About Mohammad Reiza

I first started blogging on wordpress in November 2006 that you can find at mohammadreiza.com and later in January 2007 I added another blog at reizamohammad.wordpress.com and I just recently added another blog in May 2013 at reizamonologues.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s