Monthly Archives: February 2007

Love on Valentine

Standard

Wednesday, February 14

I think I’m in LOVE…

What love really is? I have no idea. It disturb me inside. Uncomfortable feeling. My heart beats faster and faster every single second.

Love really matters. We need love to live.

Or it’s me, that is easily impressed and it causes more emotional troubles. What an impressionable person. No, it’s just intuition – not LOVE.

Good year, to start with love on valentine. What a wonderful feeling I’m going through today. It happens in a second. It didn’t take longer than that. Life is so beautiful to me right now. My life doesn’t seem such a waste anymore. I feel no reason for me to go on after I felt broken hearted last month…

Like a song said…my love ends in January. It happened to me twice. Last year and this year. Two loves. Unbelievable.

Like Beauty and the Beast in cultural festival in Byron Bay, Queensland. What a ‘meet cute’ (I got this phrase from The Holiday)

Loves come and go in this life and we have to deal with it. We must sacrifice sometimes and most of the time.

Let me find out what I am feeling now, as time goes by, if it is love or simply intuition. I’ll let love lead my way.

WordPress: My 2K Hits

Standard

Friday, February 9, 2007

Today I feel very happy that my weblog: “Up close and Personal: Mohammad Reiza” reaches over 2,000 hits. I started writing this weblog when I got so amazingly inspired once I visited a friend’s weblog on November 30, 2006.

It’s been almost four months I have been writing this weblog and I think that I need to write more interesting writing, with more pictures as they say more than words can say. I do need an allocated time to upload pictures for each article in my weblog, to make this more cozy to read and to visit.

I don’t want to limit what I’m writing in here. It’s about the white page of my life: “El Libro Blanco De Mi Vida” So that people will know a lot of things about me and my life, what I’m interested in and what I’m involved in.

It’s all by me and all by myself.

Thanks a lot for visiting this weblog and please come again and leave your comments.

Cheers,

Reiza

É Già Ieri

Standard

Cine Club di Istituto Italiano di Cultura
Jakarta
 Cine Club, every Wednesday at 19:00

Multifunctional Room IIC

Program I: January 3 – April 4, 2007

Hari ini, memang aku berencana untuk menonton film di Pusat Kebudayaan Itali di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Film hari ini (Rabu, 7 Februari) berjudul É Già Ieri. Program film ini gratis untuk siapa saja.

Menceritakan tentang Filippo, seorang wartawan yang arogan dan sinis, datang ke
Tenerife pada tanggal 13 Agustus untuk membuat film dokumenter. Esok harinya ia terbangun dengan keadaan yang sama seperti hari sebelumnya. Kata-kata yang sama, prilaku yang sama, tidak diragukan lagi ia masih berada pada tanggal 13 Agustus, juga hari-hari berikutnya. Ia seperti seseorang tanpa hari esok. Apa yang dilakukannya? Jangan khawatir, biar waktu yang menjawab.

Filippo, is a cynical and proud journalist, who arrived in
Tenerife on august 13th to shoot a documentary film. The next day when he wakes up, everything remains unchanged and it repeats the same day like yesterday. Same words, same actions, there are no doubts about it; it’s still the August 13th. And so on. He’s like a man with no tomorrow. What to do? Don’t worry, to find a solution, there’s all the time.

Rate: ****

Kemarin tidak banyak yang menonton, ada beberapa orang asing yang menonton dan aku juga sempat berbincang dengan Direktur Atase Kebudayaan Itali Prof. Dr. Ostelio Remi. Ia pribadi yang ramah dan menyenangkan. Dia juga fasih berbahasa Perancis. 

Sampai pemutaran film minggu berikutnya.

Long Road to Heaven

Standard

Jumat, 2 Februari 2007

Film ini menceritakan tentang tragedi bom bali 1 yang terjadi pada bulan Oktober 2002 lalu yang banyak menyita perhatian nasional bahkan dunia.

Aku nontonnya, pas banjir melanda Jakarta. Sore sebelumnya aku pergi ke Mall Ambassador untuk pijat refleksi. Lumayan dipijat selama 75 menit cuma bayar Rp 35,000. Not bad lah, buat ngilangin stress setelah berjuang untuk hidup dan bertahan melawan arus banjir yang menyerang Cikarang pagi ini.

Setelah itu, pas malam mau balik ke cikarang, tampaknya ngga memungkinkan karena kemacetan terjadi di mana-mana termasuk ruas-ruas jalan di Cawang dan arah menuju Cikampek. Ya akhirnya aku pergi ke Djakarta XXI nonton film ini.

Film ini juga ngingetin aku akan kejadian bom bali tahun 2002 sebelum aku berangkat ke Tokyo untuk acara Teenage Ambassador of Indonesia Program. Pada saat itu juga ada 2 orang teman, mahasiswa Jerman yang kebetulan malam itu ada di Sari Club dan Paddy’s Pub. Aku bersyukur mereka bisa bertahan hidup meskipun dengan luka-luka serious di sekujur tubuh mereka. Michael Scmeisser dan Bastian de Hesselle.

Mereka berdua banyak mengajarkan hal-hal yang sangat berarti dalam kehidupanku setelah mereka mampu bertahan hidup dari serangan bom bali itu. Keesokan harinya setelah mereka dirawat di rumah sakit Sangla, mereka dijemput pulang ke Surabaya oleh pihak International Village Universitas Surabaya.

Aku menunggu kedatangan mereka di tempat kos mereka malam itu, dan memang kondisi mereka sangat parah. gendang telinga mereka pecah, banyak luka jahitan dimana-mana. Mengerikan. Keesokannya mereka mengatur perjalanan pulang mereka ke Jerman, yang seharusnya mereka tinggal di Surabaya sampai Februari 2003.

Well, tampaknya aku tidak menceritakan tentang filmnya. okay.

Film ini mengisahkan bagaimana perencanaan Amrozi Cs untuk meledakkan bom di kedua cllub malam itu, menceritakan bagaimana bom itu meledak, dan seorang wanita Amerika yang membantu para korban dibantu oleh seorang Haji yang memiliki hotel di sekitar lokasi ledakkan, lalu mengenai proses peradilan mereka yang diliput oleh wartawan wanita dari Asutralia.

Untuk lebih jelasnya, coba kalian tonton aja filmnya di bioskop-bioskop di tempat kalian. Film ini bagus, aku sempat teringat kejadian yang menimpa 2 orang temanku 5 tahun yang lalu. Seingatku juga, aku sempat menangis, karena dari situ aku mulai sedikit depresi, sebenarnya setelah aku kembali dari Jepang dan banyak sekali travel warning untuk orang Indonesia yang ingin bepregian, bekerja atau bersekolah ke luar negeri.

Rate: ***

Note:

*= very bad; **=bad; ***=fair; ****=good; *****=very good

Banjir di Kota Jababeka, Cikarang – Bagian 2

Standard

Jumat, 2 Februari 2007

Sesampainya di atas aku hanya bisa berdoa dan bersyukur bahwa akhirnya aku bisa menyelamatkan diri dan beberapa orang lainnya, meskipun aku sempat terseret arus yang cukup kencang menuju ke aliran sungai yang membelah Kota Jababeka, tapi untunglah ada seseorang yang menarik dan menyelamatkanku.

Saat itu aku sudah berpikir panik dan rasanya ingin berteriak dan menangis. Mungkin seperti ini orang-orang di Banda Aceh pada saat Tsunami menghantam Propinsi di ujung barat Indonesia. Aku berbicara dan terdengar sekali bahwa suaraku bergetar, ketakutan dan kedinginan – panik.

Aku pun mulai bertanya-tanya kepada beberapa orang warga termasuk penjaga kamar kos, mas Aza apakah semua orang bisa diselamatkan dengan kondisi seperti itu. Andaikan aku bisa bangun dan mengevakuasi diri lebih awal, tapi itu sudah rencana Yang di atas.
Akupun juga bertanya-tanya apakah ada anggota dari kantor Polres Bekasi yang letaknya sangat dekat dari perkampungan Blok1 yang membantu warga untuk evakuasi, ternyata tidak. Aku bertambah marah. Dan aku hanya melihat beberapa orang satpam berjalan dan melihat orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri mereka. Aku sangat marah.

Dengan suara serak-serak panikku, aku datangi salah satu orang yang tampaknya anggota polisi, yang hanya duduk di dalam mobilnya sambil memegangi radio penghubungnya. “Pak, tolong lah pak, banyak sekali orang-orang di bawah sana yang masih harus diselamatkan, arus air cukup deras dan air semakin tinggi. Banyak anak-anak, orang tua dan wanita hamil.” tetapi dia masih tampak tenang. Akhirnya, aku berusaha merogoh UNESCO ID Card ku di kantong tas bagian depanku (sebenarnya sudah berakhir per 31 Januari, sebelum kontrakku diperpanjang, aku harap ini langkah yang benar). Dan kutunjukkan padanya dan aku sampaikan bahwa aku staff UNESCO Jakarta dan aku benar-benar membutuhkan pertolongannya untuk menyelamatkan warga yang berusaha naik dan menyelamatkan diri dari kepungan air yang semakin naik dan arus yang cukup deras.

Akhirnya, dia mulai bergerak dan menjalankan mobilnya untuk mencari bantuan. Aku bersyukur. Aku tidak bisa berbuat banyak selain mencari bantuan dan menanyakan kondisi beberapa orang teman yang aku tahu, kamar kos mereka terletak di tanah yang lebih rendah. Aku berusaha menghubungi mereka dan menanyakan keadan mereka. Syukurlah mereka sudah menyelamatkan diri, tetapi air sudah menutupi daun pintu kamar kos mereka, tetapi mereka sudah mengevakuasi diri dan beberapa barang berharga mereka ke kamar kos lantai 2.

Setelah aku memastikan bahwa mereka selamat, aku pun berjalan melawan arus air yang terus naik dan menggenangi jalan di boulevard Jababeka Education Park menuju ke kantor LPPM yang tidak jauh dari sekolah Al-Azhar, karena biasanya disana ada bebrapa satpam yang berjaga dan aku kenal bebrapa satpam itu, karena mereka dulunya berjaga di asrama mahasiswa President University.

Aku berjalan dengan hanya mengenakan celana pendek yang sudah basah kuyup dan kaos putih yang sudah separuh terendam air lumpur separuh dan sandal jepit yang tali sebelah kanannya lepas menuju ke kantor LPPM untuk mencari bantuan untuk warga.

Dari kejauhan aku bisa melihat dua orang satpam yang duduk di luar kantor melihat ketinggian air yang perlahan merambat masuk ke lapangan parkir LPPM-C. Salah satu dari mereka aku kenal, syukurlah. aku akan dengan mudah berbicara dengan nya dan meminta bantuan untuk menyelamatkan warga.

Ternyata pikiranku salah, kali ini. Dia malah menertawakanku dengan kondisiku yang basah dan menenteng tas kresek putih besar dan tas ransel di punggung, serta sandal sebelah kanan yang putus. Brengsek, pikirku. Aku sedikit membentak dan berbicara dengan sedikit keras meminta supaya mereka membantu warga untuk evakuasi. Tetapi mereka hanya diam dan tertawa kecil. Aku bingung?!

Lalu aku menanyakan tentang anggota aparat di kantor Polres sebelah. Dia hanya mengatakan bahwa kantor Polres saat ini kosong. Bagaimana mungkin? dalam keadaan seperti ini mereka tidak ada? Mereka menyelamatkan warga dari arah lain. Aku berpikir, warga banyak menuju ke arah sini, tapi kenapa mereka malah berputar arah untuk menyelamtkan warga dari sebelah sana. Aku pikir mereka tidak mungkin bisa membantu.

Akhirnya aku pun berjalan kembali ke arah warga menyelamatkan diri mereka dari kepungan banjir

Aku bingung tidak tahu haru bagaimana dan harus kemana. Aku tidak memikirkan barang2ku lagi, biarlah. Yang paling penting saat ini aku sudah berhasil naik dan selamat. Aku menghubungi sopir bis Jababeka, Pak Roso dan menanyakan apakah bisa tetap jalan hari ini. Ternyata, dari suara di telepon, Pak Roso juga kebingungan menyelamatkan keluarganya dan rumahnya yang juga digenangi air setinggi perut.

Hm..aku bertambah bingung dan kacau.

Aku juga bisa melihat dari kejauhan, di bunderan golf juga sudah tergenang air yang cukup tinggi dan air mulai naik ke arah Resto Plaza.

Kondisi memang menegangkan. Tidak lama kemudian banyak aparat yang mulai dtang dan mengamankan jalan dan membantu warga yang berusaha menyelamatkan diri mereka, entah itu karena permintaanku ke polisi yang hanya duduk di mobilnya tadi atau memang itu..aku tidak tahu. tapi aku cukup senang dan lega bahwa akhirnya beberapa polisi berdatangan dan membantu.

Beberapa memblokir jalan dan menghentikan beberapa kendaraan yang berusaha melewati jalan, karena memang ketinggian air juga lumayan untuk menenggelamkan sepeda motor dan menggenangi mobil. Jalan dialihkan untuk menghindari korban dan hal-hal yang tidak diinginkan. Aku juga bisa melihat bahwa air juga perlahan masuk ke halaman parkir President University yang tidak jauh dari sungai.

Selang beberapa saat datang beberapa truk untuk membantu mengevakuasi warga, dengan sorotan lampunya menerangi jalanan yang gelap dan untuk mengikatkan tali tampar yang besar untuk berpegangan supaya tidak ada yang terseret arus yang kencang. Sedikit demi sedikit warga naik dan mereka merasa lega. Beberapa mengatakan bahwa motor mereka sudah tenggelam terendam air dan mereka tidak sempat menyelamatkan motor mereka. Beberapa hewan ternak seperti sapi, kambing dan ayam juga sudah dilepaskan tetapi tidak tahu apakah mereka mampu menyelamatkan hewan ternak mereka.

Benar-benar suasana yang mencekam di saat dini hari sebelum subuh di hari Jumat awal Februari 2007.

Banjir besar juga menerjang Jakarta dan sekitarnya tahun 2002, 5 tahun yang lalu, tetapi ini diketahui lebih parah dari banjir sebelumnya. Unbelievable. Aku ngga bisa membayangkannya.

Waktu menunjukkan jam 5 lebih dan aku melihat Ronald, mahasiswa Vietnam yang akan pergi ke Jakarta dengan bis Pak Roso, tapi aku sampaikan bahwa bis Pak Roso hari ini tidak ke Jakarta, karena Pak Roso dan kelluarga terjebak banjir dan tidak bisa menuju kampus. Akhirnya kutawarkan untuk pergi ke pintu tol bersama lalu kita naik bis ke Jakarta bersama. Akhirny, kita pun berjalan menerjang air yang mulai naik dan berusaha melewati daerah yang masih kering.

Dia tampak terkejut dengan adanya banjir seperti ini. Tapi dia mengatakan bahwa banjir tidak sampai ke asrama mahasiswa – student housing – yang ada di belakang Resto Plaza. Aku pikir pasti tempatnya lebih tinggi. Kita pun berjalan melalui trotoar yang memang lebih tinggi dari ketinggian jalan raya. Setelah melalui jalan seberang Polres Bekasi, mas Aza berlari ke arahku dan memberitahuku nomer pemilik kamar kos untuk dihubungi jika air sudah surut. Aku sedikit kuatir degan kondisinya dan keluarga, karena aku tahu bahwa adiknya sedang hamil dan dia bersama ibunya yan sudah tua.

Akku berjalan melewati pintu gerbang Jababeka Education Park dan naik ke angkot 33 menuju pintu tol Cikarang untuk naik bis ke Jakarta. sekitar 15 menit kitapun sampai di pintu tol, dan waktu menunjukkan jam 6 kurang. Tidak lama bis pun datang dan aku naik dengan keadaan yang basah kuyup dengan handsfree yang terpasang di telinga untuk mendengarkan perkembangan banjir dari radio.

Aku duduk di bagian belakang bis dan AC dinyalakan cukup dingin. Selama perjalanan aku melihat kana kiri, memang banjir dimana-mana. Ada yang mencapai ketinggian sampai 1 atap rumah, sangat parah. hampir sepanjang perjalanan dari Cikarang- Jakarta melalui Cibitung, Grand Wisata, Bekasi Timur, Bekasi Barat, Pondok Gede dan Halim. Pintu tol ke arah Tanjung Priok dari Halim juga diblokir karena air sudah menggenangi sebagian ruas jalan tol. Parah.

Ketika memasuki Kota Jakarta, hujan mulai turun dengan deras. Aku berpikir untuk kembali ke Cikarang, tetapi tidak akan mengubah keadaan. Akhirnya kupun turun di Halte bis Polda dan menunggu taxi ke kantor. Tetapi keadaan lain sekali. Aku sudah menunggu taxi selama 30 menit tetapi tidak ada satupun taxi yang berhenti. Banyak sekali orang berebut mendapatkan taxi, bahkan ada yang memanfaatkan jasa tukang ojeg payung. Akhirnya ku putuskan untuk naik ojeg ke kantor dengan kondisi yang sangat basah dan pakaian seadanya.

Akhirnya aku sampai di kantor. Aku berusaha menenangkan diri dan menyalakan komputer. Lalu aku mandi dan membilas badanku seadanya tanpa sabun atau shampoo atau pasta gigi. Aku tidak berpikiran aku harus membawa apa.

Ya, akhirnya aku di kantor dengan hanya memiliki apa yang aku pakai dan yang aku bawah di tas ranselku. Aku juga tidak mau berpikir panjang bagaimana bajijr akan menenggelamkan kamar kosku dan merusak semuanya, tetapi aku sudah sempat mengunci kamar kosku sebelum aku pergi menyelamatkan diri.

Selama perjalanan Cikarang – Jakarta, pikiranku kosong, tidak ada dan tidak memikirkan apapun, hartaku, bukuku, pakaianku, tidak sama sekali. Aku berpikir selama perjalanan bahwa mungkin seperti ini juga yang dialamai oleh orang Aceh pada saat Tsunami datang dan pergi, mereka berusaha menyelamatkan diri mereka karena takut akan datangnya gempa dan Tsunami susulan. Jalan tol cukup padat pagi itu. Aku jadi bisa merasakan ketakutan dan ketegangan film Deep Impactnya Ellijah Wood (kalau ngga salah) – yang menceritakan tentang banjir dan semua orang panik hingga akhirnya jalan tol pun padat. Atau pun film War of the Worldnya Tom Cruise – banyak orang memadati jalan tol untuk menyelamatkan diri mereka dari kejaran alien.

Well, i’m still alive rite now. this’s it. Semua cerita tentang banjir yang melanda Kota Jababeka, Cikarang yang aku alami di awal bulan Februari ini.

Aku akan menulis cerita-cerita lainnya yang berhubungan dengan banjir di Jakarta dan sekitarnya lagi di kategori Jakarta.

Thanks God, I’m alive.

Reiza

Banjir di Kota Jababeka, Cikarang – Bagian 1

Standard

Kamis, 1 Februari

Malam itu entah kenapa aku memutuskan untuk pulang ke Cikarang dan tidak bermalam di rumah saudara di kawasan Tebet, Jakarta. alasanku untuk pulang adalah untuk mengambil pakaian yang aku masukan ke laundry Cuciku di Kota Jababeka, Cikarang Bekasi. Sore itu, aku sengaja naik bis 121A kota Jababeka – Blok M, tidak naik bis Jababeka dari Menara Batavia. Aku berpikir, jika aku naik bis umum aku akan lebih cepat sampai di rumah. Sesampainya di pemberhentian bis 121 A di Kota Jababeka di seberang jalan ruko Metro Boulevard, aku naik angkot 99A aku tidak bisa melihat secara jelas A atau B, karena pada malam itu sekitar pukul 19:30 listrik di Kota Jababeka padam. Hanya sebagian bangunan pabrik dan Rumah Sakit Hosana International yang tetap menyala.

Setelah itu, aku turun di ruko Roxy dan mengantri di ATM Mandiri untuk mengambil sedikit uang cash untuk pembayaran laundry. Seharusnya aku mengambil laundry hari sebelumnya, Rabu 31 Januari. Setelah ku ambil laundry, aku berjalan di dalam gelap menujur ke Pasimal (Pasar Siang Malam), di sinilah sebenarnya pusat kehidupan kota Jababeka, di mana banyak sekali karyawan pabrik dan warga sekitar berkumpul untuk meluangkan malam mereka. Keadaan malam itu memang gelap dan hujan turun rintik-rintik, tetapi itu tidak menyurutkan keinginan warga Kota Jababeka untuk tetap keluar dan makan di beberapa warung di Pasimal.

Keadaan memang sedikit mencekam. Setelah menyelesaikan makan malamku, mie rebus ala Pasimal, aku berjalan ke ujung jalan di dekat masjid Kasuari untuk mendapatkan ojeg pulang ke arah bolk 1, perkampungan (barangkali bisa dibilang kumuh, di belakang sekolah Al-Azhar, Jababeka Education Park). Di perjalanan aku sempat bercakap dengan pengendara ojeg yang tampaknya masih berusia belasan tahun. Aku menanyakan sudah berapa lama listrik padam.

“Kalau di Cikarang Baru sejak pukul 17:30 atau menjelang maghrib. Sedangkan di Blok 1 sudah dari siang tadi jam 12an.” katanya yang aku dengarkan dengan hembusan angin yang cukup kencang.

Perjalanan dari Pasimal menuju Blok 1 sekitar 3-4km. Sesampainya di dekat kamar kosku (rumah petak atau rumah bedeng), aku turun dan jalanan sedikit basah dan berlumpur. Setelah membayar uang Rp5000 aku berjalan dengan hati-hati sambil melihat ke bawah, barangkali ada genangan air.

Setelah aku masuk rumah, kondisi memang sangat gelap. Meskipun aku memiliki beberapa lilin, tapi aku baru menyadari bahwa aku tidak memiliki korek api untuk menyalakannya. Setelah berganti pakaian dan merapikan kamar, aku berjalan keluar menuju ke warung depan rumah untuk membeli korek api. Aku juga bertemu dan menyapa karyawan kampus yang menempati kamar paling ujung dan penjaga kosan.

Setelah itu aku kembali ke kamar dan menyalakan lilin untuk menerangi kamar. Setelah sedikit meregangkan otot-ototku dan pikiranku, aku mandi dan kemudian sholat. Ada sedikit firasat yang kurang enak memang sebelum sholat dan ketika sholat. Aku berpikir malam itu, sholatku untuk mengamankan rumahku dari beberapa gangguan (makhluk halus, hari gini?!) dan orang-orang jahil. Karena memang itu bangunan baru dan juga baru aku tempati beberapa hari – kurang dari seminggu.

Setelah sholat, aku mengirim beberapa sms ke beberapa orang teman lama dan saudara. Sebelumnya aku menerima sms dari bapak di Surabaya menanyakan kabarku karena dia tahu ada banjir di Bekasi dan ingin tahu apakah di tempatku, di Cikarang juga terkena banjir. Sampai malam itu aku belum sempat menjawab sms itu, sambil mendengarkan musik dari laptop Appleku. Keadaan di kamar memang gelap. Aku matikan api lilin di ruang depan dan juga di kamar mandi. Aku nyalakan 2 lilin di ruang tengah, di mana aku tidur. Aku juga sempat bertelepon dengan teman yang ada di Jakarta dan menceritakan bahwa dirinya juga terjebak hujan dan banjir di kawasan Ciputat, Jakarta Barat.

Hari semakin larut, aku juga mulai mengantuk. Kumatikan laptop dengan kondisi baterai yang tinggal sedikit. Kumasukkan laptop, dompet dan jam tangan ke dalam ransel Eastpak hitamku. Tiga handphone kuletakkan di samping bantal dengan alarm yang sudah erpasang untuk membangunkanku setelah subuh karena aku berencana untuk naik bis Pak Roso ke Jakarta keesokan paginya. Jam waker yang sudah kesetel alarmnya juga, senter berada di dekatku. Dua lilin yang menyala dan 1 lilin yang sudah mulai memendek. Setelah berdoa aku mulai memejamkan mataku. Tapi kali ini sedikit berbeda, aku merasakan hal lain di dalam doaku. Well, tapi akhirnya pun aku tertidur pulas seperti biasanya.

Jumat, 2 Februari

Tiba-tiba aku terbangun, lilin di kamarku sudah padam dan aku melihat jam yang ada di sampingku dan kutekan lampunya. Waktu masih menunjukkan jam 3 lebih dini hari. Aku mendengar suara ribut-ribut, samar-samar terdengar dari luar. Mulanya aku kira hanya orang-orang ribut biasa, tapi rasa penasaranku mempengaruhi otakku untuk mencari tahu. Aku bangun dan berdiri dari kasur lipatku di lantai yang cukup dingin. Kubuka kelambu dan mengintip dari balik jendela, mencari tahu apa yang terjadi. Kulihat banyak sekali orang berkerumun di warung depan rumah yang tampak terang dengan banyaknya lilin yang dinyalakan. Aku kira orang sakit atau orang mati (biasa orang di perkampungan ini toleransi terhadap tetangga di sekitarnya) Tapi aku merasakan ada yang lain. Kubuka pintu kamarku dan melihat kanan kiri. Tampak ada lemari dan meja rias di luar. Samar-smar dan setengah sadar aku melihat. Aku berpikir, “Ah mungkin hanya orang atau tetangga samping rumah baru pindah dan mengisi kamar.”

Tiba-tiba aku melihat mas Aza (aku kurang tahu nama sebenarnya), si penjaga kamar kosan kita tampak panik berlarian dan dia melihatku, lalu berteriak kencang, “Mas ayo mas buruan lari, banjir!” Aku pun kebingungan, kulihat teras depan masih kering dan dia berteriak banjir?! suasana memang tampak panik, aku ke dalam dan kencing ke kamar mandi dan keluar lagi melihat keadaan. Dia masih terus meneriakkiku untuk menyelamatkan diri. “Mas ayo buruan, selametin barang-barang berharga, dompet, handphone, air sudah meninggi.” Ketika kedua kalinya aku keluar rumah, aku mulai melihat bahwa air perlahan masuk di depan teras rumah, sekitar 2 cm, kali ini jelas kulihat. Aku pun mulai bergegas menyelamatkan barang-barangku, semua aku masukan ke dalam ranselku. dan aku sempat mengambil pakaian sepasang dan sepatu untuk ke kantor. Dan sedikit kurapikan beberapa barang. Aku tidak banyak memikirkan harus menyelamatkan buku-buku dan beberapa kotak dokumen yang aku letakkan di lantai. Dan ensikolpedia wayang 6 edisi milik Martin (temanku dari Denmark) yang dititipkan ke aku beberapa waktu lalu sebelum dia kembali ke Denmark.

Tidak terpikirkan olehku untuk menaikkan semua kotak-kotak dokuumen itu ke atas lemari yang baru aku beli di Carrefour Ambassador seharga Rp199,900. Dan beberapa tas ransel yang berisi beberapa buku dan dokumen yang ada di lantai.
Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, aku harus percaya bahwa kita sedang diserang banjir dan air mulai naik. Aku percaya karena memang sungai terletak tidak jauh di belakang rumahku. Dan aku hanya berpikir aku harus menyelamatkan diri dan beberapa barang berhargaku.

Dengan hanya mengenakan kaos putih Giordano yang aku beli di Seoul dengan harga diskon dan celana pendek Adidas yang aku beli 4 tahun yang lalu di Surabaya dengan penghasilan pertamaku dari mengajar kursus Bahasa Jerman dan sandal jepit, tas ransel hitam di punggungku, dan tas kresek putih besar dari Cuciku yang berisi pakaian dan sepatu, aku mengunci kamarku dan mulai menyelamatkan diri bersama warga lainnya. Dengan berbekal lampu senter untuk penerangan jalanku, aku mulai berjalan menuju jalan utama Jababeka Education Park bersama warga lainnya.

Suasana masih sangat gelap. Ketika aku melangkahkan kaki keluar dari area kamar kos, air sudah setinggi lebih dari mata kaki. aku berjalan lebih jauh bersama warga yang lain dan perlahan air memang mulai naik, setinggi lutut, paha dan akhirnya setinggi pinggangku dan sempat sesaat setinggi dadaku. Air mengalir deras dan menghantam beberapa warga yang berusaha menyelamatkan dirinya. Aku sempat terseret arus dan hampir hanyut, tetapi seseorang menarik tangan kiriku sedangkan tangan kananku menggenggam hp berusaha untuk menghubungi teman dan beberapa saudara. Akhirnya mas Aza memegangi aku supaya tidak terseret arus lagi sambil dia memegangi adiknya yang sedang hamil dan ibunya yang sudah tua.

Menit-menit melewati arus air yang deras menuju sungai itu memang saat yang cukup berat buatku. Rasanya aku ingin menangis, ingin berteriak, menggiggil kedinginan semuanya bercampur aduk di dalam diriku dan pikiranku saat itu.

Setelah beberapa saat berjuang untuk naik ke atas, ke jalan utama akhirnya kita sampai dengan selamat di atas. Alhamdulillah. Aku bersyukur akhirnya aku bisa sampai dengan selamat di atas.

bersambung…

Berbagi Payung (dari banjir Jakarta 2007)

Standard

Well, akhirnya aku menemukan ide cerita yang lebih menarik untuk diangkat dan dituliskan ke dalam judul di atas: Berbagi Payung

Berbagi Payung menceritakan tentang pengalaman seseorang ketika banjir melanda Jakarta dan sekitarnya: Karawang, Bekasi, Tangerang dan beberapa tempat lainnya di awal bulan Februari 2007.

Ini berkisah tentang seorang laki-laki yang bertemu dengan seorang perempuan pada saat banjir melanda Jakarta. Merekapun berjalan berdua berbagi payung menyusuri daerah-daerah yang dilanda banjir. Mereka berduapun melaporkan keadaan banjir di Jakarta dengan peralatan elektronik mereka: handphone 3G, handycam dan digi-cam. Mereka menyelamatkan beberapa warga yang terjebak banjir dan membantu warga untuk mengevakuasi diri mereka dan keluarga serta beberapa barang berharga.

Di akhir cerita, mereka berhasil menyelamatkan banyak warga dan harta benda mereka. Mereka diliput oleh beberapa stasiun televisi atas keberanian mereka dan mereka pun menjadi sepasang kekasih. (kok akhirnya seperti ini sih?! buat teman-teman yang memiliki ide yang lebih bagus, tolong disumbangkan.)

Aku akan melanjutkan penulisan cerita ini secepatnya. Ini hanya garis besar dan gambaran singkat mengenai apa dan ke mana arah cerita berbagi payung ini.

Cheers, Reiza

Banjir di Cikarang, Bekasi

Standard

2 Februari, 2007

Kurang lebih sekitar pukul 4 dini hari, aku mengevakuasi diri dari kamar kos yang baru aku tempati sejak hari Sabtu minggu lalu.

Feel like I want to cry:-(

Tetapi semua tempat dan banyak tempat yang banjir. Paling tidak aku sempat membantu warga untuk mengevakuasi diri.

Dan saat ini aku hanya memiliki apa-apa yang aku bawa pagi ini di tas ransel ku. Kutinggalkan semua barang-barang di rumah tanpa berpikir panjang, tanpa berpikir aku harus menyelamatkan barang-barangku. Sudahlah semua sudah terjadi.

Kota Jababeka terendam air. banjir hingga sebatas pinggang dan listrik padam. Aku tidak bisa membayangkan hal ini. Pemadaman listrik ngga ada masalah. Kalau di tambah banjir. Ya Allah, ada apakah ini.

Aku harus berkompromi dengan keadaan saat ini. Aku harus tegar dan kuat.

Aku akan melanjutkan tulisan ini setelah aku bisa merasa sedikit lebih tenang.