Banjir di Kota Jababeka, Cikarang – Bagian 1

Standard

Kamis, 1 Februari

Malam itu entah kenapa aku memutuskan untuk pulang ke Cikarang dan tidak bermalam di rumah saudara di kawasan Tebet, Jakarta. alasanku untuk pulang adalah untuk mengambil pakaian yang aku masukan ke laundry Cuciku di Kota Jababeka, Cikarang Bekasi. Sore itu, aku sengaja naik bis 121A kota Jababeka – Blok M, tidak naik bis Jababeka dari Menara Batavia. Aku berpikir, jika aku naik bis umum aku akan lebih cepat sampai di rumah. Sesampainya di pemberhentian bis 121 A di Kota Jababeka di seberang jalan ruko Metro Boulevard, aku naik angkot 99A aku tidak bisa melihat secara jelas A atau B, karena pada malam itu sekitar pukul 19:30 listrik di Kota Jababeka padam. Hanya sebagian bangunan pabrik dan Rumah Sakit Hosana International yang tetap menyala.

Setelah itu, aku turun di ruko Roxy dan mengantri di ATM Mandiri untuk mengambil sedikit uang cash untuk pembayaran laundry. Seharusnya aku mengambil laundry hari sebelumnya, Rabu 31 Januari. Setelah ku ambil laundry, aku berjalan di dalam gelap menujur ke Pasimal (Pasar Siang Malam), di sinilah sebenarnya pusat kehidupan kota Jababeka, di mana banyak sekali karyawan pabrik dan warga sekitar berkumpul untuk meluangkan malam mereka. Keadaan malam itu memang gelap dan hujan turun rintik-rintik, tetapi itu tidak menyurutkan keinginan warga Kota Jababeka untuk tetap keluar dan makan di beberapa warung di Pasimal.

Keadaan memang sedikit mencekam. Setelah menyelesaikan makan malamku, mie rebus ala Pasimal, aku berjalan ke ujung jalan di dekat masjid Kasuari untuk mendapatkan ojeg pulang ke arah bolk 1, perkampungan (barangkali bisa dibilang kumuh, di belakang sekolah Al-Azhar, Jababeka Education Park). Di perjalanan aku sempat bercakap dengan pengendara ojeg yang tampaknya masih berusia belasan tahun. Aku menanyakan sudah berapa lama listrik padam.

“Kalau di Cikarang Baru sejak pukul 17:30 atau menjelang maghrib. Sedangkan di Blok 1 sudah dari siang tadi jam 12an.” katanya yang aku dengarkan dengan hembusan angin yang cukup kencang.

Perjalanan dari Pasimal menuju Blok 1 sekitar 3-4km. Sesampainya di dekat kamar kosku (rumah petak atau rumah bedeng), aku turun dan jalanan sedikit basah dan berlumpur. Setelah membayar uang Rp5000 aku berjalan dengan hati-hati sambil melihat ke bawah, barangkali ada genangan air.

Setelah aku masuk rumah, kondisi memang sangat gelap. Meskipun aku memiliki beberapa lilin, tapi aku baru menyadari bahwa aku tidak memiliki korek api untuk menyalakannya. Setelah berganti pakaian dan merapikan kamar, aku berjalan keluar menuju ke warung depan rumah untuk membeli korek api. Aku juga bertemu dan menyapa karyawan kampus yang menempati kamar paling ujung dan penjaga kosan.

Setelah itu aku kembali ke kamar dan menyalakan lilin untuk menerangi kamar. Setelah sedikit meregangkan otot-ototku dan pikiranku, aku mandi dan kemudian sholat. Ada sedikit firasat yang kurang enak memang sebelum sholat dan ketika sholat. Aku berpikir malam itu, sholatku untuk mengamankan rumahku dari beberapa gangguan (makhluk halus, hari gini?!) dan orang-orang jahil. Karena memang itu bangunan baru dan juga baru aku tempati beberapa hari – kurang dari seminggu.

Setelah sholat, aku mengirim beberapa sms ke beberapa orang teman lama dan saudara. Sebelumnya aku menerima sms dari bapak di Surabaya menanyakan kabarku karena dia tahu ada banjir di Bekasi dan ingin tahu apakah di tempatku, di Cikarang juga terkena banjir. Sampai malam itu aku belum sempat menjawab sms itu, sambil mendengarkan musik dari laptop Appleku. Keadaan di kamar memang gelap. Aku matikan api lilin di ruang depan dan juga di kamar mandi. Aku nyalakan 2 lilin di ruang tengah, di mana aku tidur. Aku juga sempat bertelepon dengan teman yang ada di Jakarta dan menceritakan bahwa dirinya juga terjebak hujan dan banjir di kawasan Ciputat, Jakarta Barat.

Hari semakin larut, aku juga mulai mengantuk. Kumatikan laptop dengan kondisi baterai yang tinggal sedikit. Kumasukkan laptop, dompet dan jam tangan ke dalam ransel Eastpak hitamku. Tiga handphone kuletakkan di samping bantal dengan alarm yang sudah erpasang untuk membangunkanku setelah subuh karena aku berencana untuk naik bis Pak Roso ke Jakarta keesokan paginya. Jam waker yang sudah kesetel alarmnya juga, senter berada di dekatku. Dua lilin yang menyala dan 1 lilin yang sudah mulai memendek. Setelah berdoa aku mulai memejamkan mataku. Tapi kali ini sedikit berbeda, aku merasakan hal lain di dalam doaku. Well, tapi akhirnya pun aku tertidur pulas seperti biasanya.

Jumat, 2 Februari

Tiba-tiba aku terbangun, lilin di kamarku sudah padam dan aku melihat jam yang ada di sampingku dan kutekan lampunya. Waktu masih menunjukkan jam 3 lebih dini hari. Aku mendengar suara ribut-ribut, samar-samar terdengar dari luar. Mulanya aku kira hanya orang-orang ribut biasa, tapi rasa penasaranku mempengaruhi otakku untuk mencari tahu. Aku bangun dan berdiri dari kasur lipatku di lantai yang cukup dingin. Kubuka kelambu dan mengintip dari balik jendela, mencari tahu apa yang terjadi. Kulihat banyak sekali orang berkerumun di warung depan rumah yang tampak terang dengan banyaknya lilin yang dinyalakan. Aku kira orang sakit atau orang mati (biasa orang di perkampungan ini toleransi terhadap tetangga di sekitarnya) Tapi aku merasakan ada yang lain. Kubuka pintu kamarku dan melihat kanan kiri. Tampak ada lemari dan meja rias di luar. Samar-smar dan setengah sadar aku melihat. Aku berpikir, “Ah mungkin hanya orang atau tetangga samping rumah baru pindah dan mengisi kamar.”

Tiba-tiba aku melihat mas Aza (aku kurang tahu nama sebenarnya), si penjaga kamar kosan kita tampak panik berlarian dan dia melihatku, lalu berteriak kencang, “Mas ayo mas buruan lari, banjir!” Aku pun kebingungan, kulihat teras depan masih kering dan dia berteriak banjir?! suasana memang tampak panik, aku ke dalam dan kencing ke kamar mandi dan keluar lagi melihat keadaan. Dia masih terus meneriakkiku untuk menyelamatkan diri. “Mas ayo buruan, selametin barang-barang berharga, dompet, handphone, air sudah meninggi.” Ketika kedua kalinya aku keluar rumah, aku mulai melihat bahwa air perlahan masuk di depan teras rumah, sekitar 2 cm, kali ini jelas kulihat. Aku pun mulai bergegas menyelamatkan barang-barangku, semua aku masukan ke dalam ranselku. dan aku sempat mengambil pakaian sepasang dan sepatu untuk ke kantor. Dan sedikit kurapikan beberapa barang. Aku tidak banyak memikirkan harus menyelamatkan buku-buku dan beberapa kotak dokumen yang aku letakkan di lantai. Dan ensikolpedia wayang 6 edisi milik Martin (temanku dari Denmark) yang dititipkan ke aku beberapa waktu lalu sebelum dia kembali ke Denmark.

Tidak terpikirkan olehku untuk menaikkan semua kotak-kotak dokuumen itu ke atas lemari yang baru aku beli di Carrefour Ambassador seharga Rp199,900. Dan beberapa tas ransel yang berisi beberapa buku dan dokumen yang ada di lantai.
Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, aku harus percaya bahwa kita sedang diserang banjir dan air mulai naik. Aku percaya karena memang sungai terletak tidak jauh di belakang rumahku. Dan aku hanya berpikir aku harus menyelamatkan diri dan beberapa barang berhargaku.

Dengan hanya mengenakan kaos putih Giordano yang aku beli di Seoul dengan harga diskon dan celana pendek Adidas yang aku beli 4 tahun yang lalu di Surabaya dengan penghasilan pertamaku dari mengajar kursus Bahasa Jerman dan sandal jepit, tas ransel hitam di punggungku, dan tas kresek putih besar dari Cuciku yang berisi pakaian dan sepatu, aku mengunci kamarku dan mulai menyelamatkan diri bersama warga lainnya. Dengan berbekal lampu senter untuk penerangan jalanku, aku mulai berjalan menuju jalan utama Jababeka Education Park bersama warga lainnya.

Suasana masih sangat gelap. Ketika aku melangkahkan kaki keluar dari area kamar kos, air sudah setinggi lebih dari mata kaki. aku berjalan lebih jauh bersama warga yang lain dan perlahan air memang mulai naik, setinggi lutut, paha dan akhirnya setinggi pinggangku dan sempat sesaat setinggi dadaku. Air mengalir deras dan menghantam beberapa warga yang berusaha menyelamatkan dirinya. Aku sempat terseret arus dan hampir hanyut, tetapi seseorang menarik tangan kiriku sedangkan tangan kananku menggenggam hp berusaha untuk menghubungi teman dan beberapa saudara. Akhirnya mas Aza memegangi aku supaya tidak terseret arus lagi sambil dia memegangi adiknya yang sedang hamil dan ibunya yang sudah tua.

Menit-menit melewati arus air yang deras menuju sungai itu memang saat yang cukup berat buatku. Rasanya aku ingin menangis, ingin berteriak, menggiggil kedinginan semuanya bercampur aduk di dalam diriku dan pikiranku saat itu.

Setelah beberapa saat berjuang untuk naik ke atas, ke jalan utama akhirnya kita sampai dengan selamat di atas. Alhamdulillah. Aku bersyukur akhirnya aku bisa sampai dengan selamat di atas.

bersambung…

About Mohammad Reiza

I first started blogging on wordpress in November 2006 that you can find at mohammadreiza.com and later in January 2007 I added another blog at reizamohammad.wordpress.com and I just recently added another blog in May 2013 at reizamonologues.wordpress.com

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s