Long Road to Heaven

Standard

Jumat, 2 Februari 2007

Film ini menceritakan tentang tragedi bom bali 1 yang terjadi pada bulan Oktober 2002 lalu yang banyak menyita perhatian nasional bahkan dunia.

Aku nontonnya, pas banjir melanda Jakarta. Sore sebelumnya aku pergi ke Mall Ambassador untuk pijat refleksi. Lumayan dipijat selama 75 menit cuma bayar Rp 35,000. Not bad lah, buat ngilangin stress setelah berjuang untuk hidup dan bertahan melawan arus banjir yang menyerang Cikarang pagi ini.

Setelah itu, pas malam mau balik ke cikarang, tampaknya ngga memungkinkan karena kemacetan terjadi di mana-mana termasuk ruas-ruas jalan di Cawang dan arah menuju Cikampek. Ya akhirnya aku pergi ke Djakarta XXI nonton film ini.

Film ini juga ngingetin aku akan kejadian bom bali tahun 2002 sebelum aku berangkat ke Tokyo untuk acara Teenage Ambassador of Indonesia Program. Pada saat itu juga ada 2 orang teman, mahasiswa Jerman yang kebetulan malam itu ada di Sari Club dan Paddy’s Pub. Aku bersyukur mereka bisa bertahan hidup meskipun dengan luka-luka serious di sekujur tubuh mereka. Michael Scmeisser dan Bastian de Hesselle.

Mereka berdua banyak mengajarkan hal-hal yang sangat berarti dalam kehidupanku setelah mereka mampu bertahan hidup dari serangan bom bali itu. Keesokan harinya setelah mereka dirawat di rumah sakit Sangla, mereka dijemput pulang ke Surabaya oleh pihak International Village Universitas Surabaya.

Aku menunggu kedatangan mereka di tempat kos mereka malam itu, dan memang kondisi mereka sangat parah. gendang telinga mereka pecah, banyak luka jahitan dimana-mana. Mengerikan. Keesokannya mereka mengatur perjalanan pulang mereka ke Jerman, yang seharusnya mereka tinggal di Surabaya sampai Februari 2003.

Well, tampaknya aku tidak menceritakan tentang filmnya. okay.

Film ini mengisahkan bagaimana perencanaan Amrozi Cs untuk meledakkan bom di kedua cllub malam itu, menceritakan bagaimana bom itu meledak, dan seorang wanita Amerika yang membantu para korban dibantu oleh seorang Haji yang memiliki hotel di sekitar lokasi ledakkan, lalu mengenai proses peradilan mereka yang diliput oleh wartawan wanita dari Asutralia.

Untuk lebih jelasnya, coba kalian tonton aja filmnya di bioskop-bioskop di tempat kalian. Film ini bagus, aku sempat teringat kejadian yang menimpa 2 orang temanku 5 tahun yang lalu. Seingatku juga, aku sempat menangis, karena dari situ aku mulai sedikit depresi, sebenarnya setelah aku kembali dari Jepang dan banyak sekali travel warning untuk orang Indonesia yang ingin bepregian, bekerja atau bersekolah ke luar negeri.

Rate: ***

Note:

*= very bad; **=bad; ***=fair; ****=good; *****=very good

About Mohammad Reiza

I first started blogging on wordpress in November 2006 that you can find at mohammadreiza.com and later in January 2007 I added another blog at reizamohammad.wordpress.com and I just recently added another blog in May 2013 at reizamonologues.wordpress.com

6 responses »

  1. Hey Dian,

    hehehe…iyes, I’m blogging now, to use my time:-) not to waste my time. I’d like to write them in English but I also need to use my Bahasa so it won’t go obsolete. Simply so. But will try to make a bilingual weblog. How about it?? But I plan to write in some languages I can speak, write and understand. Will be fun I think. I link your weblog to mine. So, Welcome to my world!

    Cheers, Reiza.

  2. Catatan & Review FILM Long road to Heaven-nya nyaris ngak ada, cuma luapan emosi yg tertata sebagai deklarasi cerita diri yang menyerupai cerita film.
    Banyak belajar lagi untuk bikin review, pemahaman akan penilaian sebuah karya sastra harus bersifat objective tanpa di pengaruhi unsur emosi diri.

  3. Rakhmat,

    thanks for the comment, memang yang di atas bukan film review, judulnya memang seperti filmnya. Dan di atas juga aku sudah memberikan kalimat bahwa aku juga ngga menceritakan tentang filmnya. Tapi aku kira, aku juga memberikan ulasan singkat mengenai filmnya sepanjang satu paragraf di akhir tulisan. Anyway, thanks. Aku akan belajar untuk membuat ringkasan film yang lebih bagus. ok. Need your support, dude.

    Cheers, Reiza

  4. Hi Reiza,
    apa kabar? Haven’t watched the movie yet (guess why) but I know that it is around. Always your friend,
    from Germany,
    bastian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s