Monthly Archives: March 2008

A Welcome Address from the Management of President University

Standard

(Published in President University Newsletter in 2004)

Welcome to President University

Your decision to be Students of President University is a very wise choice. I am saying that it is very wise since there are five main and useful reasons for becoming Students of President University.

First, using English as the medium of instruction will enable you to be spontaneously involved in international society.

Second, in reality you will actively associate with an international community, due to the fact that the tripartite academic society of President University (Students, Lecturers and Administrative Staff) is of diverse nationalities, among others: American, Australian, Chinese, Philippine, Indonesian, British, Canadian, Singaporean, Vietnamese, etc.

Third, the curriculum is deliberately designed to synergize theoretical knowledge and practical experience at more than 1,020 multinational and national companies in the industrial estate around the campus. Thereby, the graduates of President University are really well prepared to be skilful and professional for any work environment. It is even more likely that graduates of President University will be recruited to work at multinational and national companies around the President University Campus.

Fourth, well-furnished learning –teaching facilities (libraries and laboratories) supported by modern extracurricular amenities (swimming pool, tennis court, golf course, and other various sporting facilities as well as cultural arts) are provided at President University. It is also worth mentioning that President University is the only Indonesian university which has golf course.

Fifth, students, especially the first year ones, are required to live in the dormitory, so that they are able to socialize. This will certainly be very useful for them to develop a sense of togetherness, discipline, responsibility, independence, leadership and other virtues that will be invaluable assets for their future lives after graduating from President University. It is President University’s commitment to prepare you with knowledge, skills and strong character building, so you can be a wise human being.

Quietly reflect upon the benefits mentioned above, and you will certainly be aware that the five main benefits are only available at President University.
Therefore, once again I extend to you my cordial welcome. Rejoice that you have made a very wise choice to be Students of President University.

President University

Management

Teaching English for Poor Kids

Standard

(Published in President University Newsletter in 2004)
Mohammad Reiza

Children are the next generation of human race. That is, therefore, education is very significant for them in order to build high-standard qualified children to continue the development throughout the world. To facilitate them in improving one of important skills to face the globalization era, on March 13, 2004 students of President University established an English course for them, free of charge. Furthermore, some volunteer teachers teach them every Saturday afternoon at 3:00 – 4:30 p.m. in the third floor of President University main campus. The classes are divided based on their ages so there are classes for children aged 5-7 years old and also children aged 8-11 years. That is taken in order to get optimum result of our three months English program. Our program’s priority is how to teach children English and make it fun besides we use international standard of English teaching methodology to get real result of it. We are going to work together with UNICEF to introduce this program to all children in other parts of the world because this is part of planning our children’s future.

New Friends from Malaysia

Standard

(Published in President University Newsletter in 2004)
Mohammad Reiza

Today (April 22, 2004) 25 out of 1600 students from Kolej Universiti Islam Malaysia (KUIM), Kuala Lumpur, come to visit President University after having tour in Jababeka industrial area as well as the Waste Water Treatment Plan. They are guided to have a short campus orientation before they arrive in the third floor to follow the programs. A presentation about President University programs has been conducted to the Malaysian students who should be able to speak both Arabic and English in their university. Eight students who call themselves Papappella entertain them by singing three acappella songs after the presentation. Muhammed Adzrul, Program Director of four-day International Educational Visit Program says that the purposes of this visit are to build good relationship with President University and to learn more about Indonesian economy from the industrial visits and also as a program to use three-month semester holidays. He adds, “This is like common university but after entering the building it gives different impression, those are very high level of education, international surrounding and environment.” Even though this is a young university but the ability, the development and the performance are impressive. “This is excellent experience and beyond our expectation to visit President University” says Prof. Dr. Muhamad Muda, the Dean Faculty of Economics and Muamalat. The students are talented and capable of meeting the requirement to become future leaders, he explains briefly at the end of the programs.

Golf Can Make Money for You

Standard

(Published in President University Newsletter in 2004)
Mohammad Reiza

Students of President University were lucky on Monday, March 29, 2004 because they had got a very special guest lecturer he is Mr. SD. Darmono, the Director of Jababeka. For about an hour and thirty minutes a seminar about “Selling Cikarang Golf Membership” had been conducted by him in the second floor of President University. Many students came and listened to his thought-provoking presentation. That is not that easy selling a hundred millions of Rupiah golf membership even though this membership has some advantages such as transferable and life-timed. Our beautiful General Manager, Miss Eleanor will give us 3% out of the total money we can afford. Isn’t tempting? Of course! But it requires very hard work and more importantly, never give up, catch the target. He explained that if we sell something, we have to completely understand what and how our products are in order to convince our costumers and persuade them to buy it. The easiest customers to be convinced are our parents. Why? Because they would feel guilty if they didn’t buy it so they eventually decided to purchase it. Now, come to your parents and offer them Cikarang Golf Membership.

Lingkungan-ku, Hidup-ku, Masa Depan-ku

Standard

Karya tulis ini telah dikarang oleh Mohammad Reiza untuk diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Nasional BRI 2004 dan telah disahkan oleh Rektor Universitas President, Cikarang, Bekasi, bahwa karya tulis ini merupakan hasil karya pemikiran sendiri dan belum pernah dipublikasikan di media massa.

Dua tahun lalu, ketika saya harus menulis essay tentang permasalahan lingkungan hidup di Indonesia sebagai persyaratan program duta remaja Indonesia ke Jepang, saya baru mengetahui lebih jauh seberapa serius permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi dan harus ditangani oleh pemerintah Indonesia. Tentunya, dengan peran aktif masyarakat menjaga dan melestarikan lingkungannya. Coba kita lihat kebiasaan diri kita, keluarga kita, tetangga kita, warga kita sampai ke bangsa kita dan kita belum bisa dikatakan bangsa yang sadar akan kebersihan lingkungan dan seberapa pentingnya menjaga kesehatan lingkungan kita.

Saya juga jadi teringat, kejadian dua tahun lalu di Jogja. Saat itu saya bertemu dengan seorang wisatawan dari Perancis di daerah sekitar Kraton Jogja. Setelah berbincang-bincang, kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan dan menonton “Ramayana Ballet” di teater terbuka yang terletak di bagian barat candi. Sang surya mulai tenggelam, dan kita berjalan keluar dari area Candi Prambanan menuju ke tempat pertunjukan sambil meneguk sekaleng minuman ringan. Tampaknya dia sudah menghabiskan minumannya, tapi dia masih saja menggenggam kaleng kosongnya. Ada pertanyaan di benak saya “kenapa dia tidak membuang saja kalengnya?” Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa kamu tidak membuangnya saja?” Dia menjawab dengan nada sedikit terkejut, “Tidak, saya mencari tempat sampah!” “Tapi sekarang kamu ada di Jogja, lihatlah orang-orang di sekelilingmu,” langsung saya balas dengan jawaban yang mungkin merisaukan dan menimbulkan tanda tanya di dalam pikirannya. Akhirnya dia mengatakan sesuatu yang berhasil merubah pikiranku secara drastis, “Baiklah, tapi itu bukanlah alasan yang baik untuk membuang kalengnya, kan?”
Dari pengalaman itu dan dari saat itu juga, saya akhirnya berpikir dua kali sebelum membuang sampah sembarangan. Meskipun itu hanya bungkus permen, saya pasti memasukkannya ke dalam kantong celanaku sampai kutemukan keranjang sampah, baru saya akan membuangnya. Itu memang pelajaran yang sangat berharga buatku dari seseorang yang datang dari negara yang kesadaran akan kebersihan lingkungannya sudah tinggi. Bagaimana ya rasanya, kalau yang mengatakan hal itu tadi orang Indonesia, teman kita sendiri? Wah, pasti kita akan merasa bangga. Pada saat itu, tingkat kesadaran bangsa kita untuk menjaga alam pasti sudah tinggi, tapi kapan ya? Pasti. Suatu hari nanti kita akan menuju dan berada pada tingkatan itu tapi kita juga harus benar-benar menjaga dan melestarikan lingkungan kita, hidup kita dan juga masa depan kita.
Tidak berhenti di situ saja, pertanyaan-pertanyaan terus melayang dan berputar-putar di atas kepalaku. Setibanya di Jepang, saya semakin terkagum-kagum dengan keadaan lingkungannya, kebersihannya dan bagaimana kebiasaan mereka dalam menjaga alam dan lingkungan hidup. Benar-benar hal yang harus ditiru dan diterapkan di negara kita. Bagaimana kalau kita mencanangkan hari bebas sampah nasional? Ketika semua orang di seluruh Indonesia meluangkan satu hari waktunya untuk membersihkan lingkungannya dan membebaskannya dari benda yang bernama sampah dan kotoran-kotoran.
Orang-orang Jepang memang sangat menghargai dan menilai tinggi kebersihan lingkungan karena itu juga mempengaruhi tingkat kesehatan mereka. Lingkungan bersih, badan pun sehat. Benar kan, kalimat itu? Saya tidak melihat sebuah sampah berserakan di sepanjang jalan yang saya lalui, semuanya ada pada tempatnya. Benar-benar pengalaman yang mengesankan. Baik itu di desa kecil seperti di Kojima maupun di ibukotanya, Tokyo. Sampah telah terorganisasi dan teratasi dengan sangat baiknya. Terbayang tidak, ternyata di beberapa pintu masuk plaza atau pusat perbelanjaan di Tokyo telah disediakan tempat sampah khusus yang didesain terpisah-pisah sesuai dengan jenis sampahnya, seperti sampah organik, non-organik, besi dan pecahan kaca. Hal itu mengindikasikan bahwa warga Jepang telah mendapatkan pendidikan yang baik tentang kebiasaan membuang sampah.
Bagaimana kalau tempat sampah seperti itu disediakan di pintu masuk Plasa Senayan, Plasa Indonesia, Mall Taman Anggrek dan beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta. Untuk pertama kali, memang akan menjadi proyek percontohan untuk pusat-pusat perbelanjaan yang lainnya. Hal itu pasti akan menjadi sesuatu yang baru dan aneh bagi pengunjung mall, tapi tentunya dengan bantuan para pemilik mall. Mereka harus berpartisipasi mendidik dan memberikan pengarahan berkala kepada para pengunjung mall dalam membuang dan memilah sampah pada tempat sampah baru itu. Lantas setelah itu, sampah-sampahnya akan dikemanakan? Kalau kita cermat dalam melihat peluang yang ada di depan mata kita, sampah-sampah tadi bisa kita daur ulang menjadi barang baru yang bermanfaat untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Bahkan, sampah-sampah tadi bisa kita ubah menjadi uang lho kalau kita melihat dari segi bisnisnya. Banyak juga, kalau kita tahu, orang-orang yang berhasil meningkatkan taraf kehidupan dan kesejahteraan keluarganya dari bekerja sebagai ‘pengepool’ sampah. Nah, sekarang bagaimana caranya kita bisa memanfaatkan sampah.
Tidak hanya itu. Kunjungan ke tempat pengolahan limbah ‘Mizushima’ memberikan pelajaran yang sarat dengan ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat di Jepang. Bagaimana mereka mengolah limbah perumahan dan pabrik, menyalurkannya melalui pipa-pipa dalam tanah yang panjang, mengendapkan lumpur dan pasirnya lalu mengalirkan air hasil saringan ke pipa lainnya untuk diolah dan disuling menjadi air bersih siap pakai. Melihat bagannya yang rumit sudah membuat geleng-geleng kepala. Beda sekali dengan beberapa tempat pengolahan limbah perumahan dan industri yang bisa dilihat di daerah industri Jababeka, Cikarang. Memang keduanya tampak rumit, tapi yang terlihat di Jepang menggunakan teknologi yang lebih canggih. Bagaimana cara menyamainya? Dengan meningkatkan sumber daya teknologi bangsa Indonesia.
Selain itu, kita juga diajak mengobservasi lingkungan dengan cara mengetes kadar air sungai harian apakah layak minum atau tidak. Sayangnya, pada saat itu keadaan airnya sedikit kotor jadi tidak layak minum. Begitu jauhnya mereka memperhatikan kebersihan lingkungan. Sampai air sungai pun ada kelayakan minumnya. Coba kita lihat sungai Ciliwung yang kotor, bangunan-bangunan liar yang berdiri di sepanjangnya, orang-orang mandi, buang air, mencuci pakaian dan bahkan mencuci beras yang akan mereka makan. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terus terjadi, lalu apa yang harus kita lakukan?
Saat ini saya berada di sebuah rumah kontrakan di daerah industri Jababeka. Kebanyakan tetangga kanan kiri saya orang-orang pendatang yang bekerja di pabrik-pabrik. Mereka tampaknya juga kurang mengerti tentang dampak pembakaran sampah. Saat ini saya sedang mengadakan penelitian tentang kebiasaan warga Cikarang dalam membuang sampah rumah tangga mereka dan saatnya saya memberikan pengertian bahwa membakar sampah justru akan memperburuk keadaan dan bahkan bisa lebih mencemari udara yang kita hirup. Ternyata permasalahannya bukan itu saja, petugas yang biasa mengambil sampah dari kampung ke kampung pun jarang sekali saya jumpai di sekitar rumah saya. Kita biasanya membuang sampah di tempat sampah yang ada di ujung jalan lalu salah satu dari mereka pasti akan membakarnya setiap akhir pekan.
Bagaimanapun juga, kita harus mengatasi hal ini bersama-sama dan membutuhkan koordinasi yang baik dengan kepala desa setempat. Keadaan di sini memang memprihatinkan tapi tampaknya dari pihak kepala desa memang tidak dapat berbuat banyak untuk menangani hal ini. Memang saatnya saya dan beberapa teman-teman mahasiswa membantu menangani hal ini. Dengan metode pendekatan personal kepada masyarakat sekitar, permasalahan sampah yang telah lama dihadapi oleh warga Cikarang, diharapkan bisa segera diselesaikan.
Keadaan TPA juga memprihatinkan. Semua sampah yang ada di sekitar Bekasi akan dibuang dan menggunung di TPA Bantar Gebang, sementara volume sampah yang semakin meningkat dari hari ke hari semakin memperkecil daya tampung TPA ini. Sama halnya dengan TPA Benowo yang menjadi tempat pembuangan semua sampah di Surabaya setelah TPA Keputih ditutup.
Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah yang semakin rumit ini? Tampaknya memang tidak mudah untuk menangani hal-hal yang menjadi permasalahan nasional di Indonesia saat ini. Lantas, siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Tentunya pemerintah Indonesia dan juga seluruh rakyat Indonesia. Jadi, pada dasarnya kita memang harus bekerjasama untuk menangani permasalahan ini. Pemerintah yang memfasilitasi sementara warga yang menjalankan. Dalam hal ini kita membutuhkan tiga peranan yaitu investor, konseptor dan juga pelaksana.
Investor akan menanamkan modalnya untuk program pengolahan sampah ini, pemerintah juga bisa memberikan kucuran dana untuk menangani masalah ini. Dalam hal penanganan lingkungan hidup, dana segar memang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana-rencana yang telah dibuat oleh konseptornya.
Siapakah konseptornya? Banyak sekali orang yang bekerja di Dinas Kebersihan yang memiliki ide-ide cemerlang untuk mengatasi masalah ini, misalnya dengan membuat cairan biokimia yang mampu menghancurkan sampah organik, membuat alat yang mampu mengubah sampah-sampah plastik menjadi tali rafia, memberdayakan ibu-ibu rumah tangga untuk membuat kerajinan tangan dengan menggunakan sampah-sampah non-organik, membuat mesin yang bisa mengolah sampah-sampah organik menjadi pupuk, membuat batu bata dengan isi sampah, bahkan kita juga bisa menggunakan bioteknologi dengan menciptakan robot yang mempunyai sel-sel tumbuhan yang mampu menyerap gas CO dan CO2 lalu mengolahnya di dalam tubuh mereka dan membebaskan gas-gas tadi dalam bentuk O2. Robot ramah lingkungan juga bisa sangat membantu dalam hal ini.
Setelah semua konsep matang, beberapa orang sukarelawan atau aktivis-aktivis lingkungan hidup bisa mengenalkan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat umum, supaya mereka mengetahui jalan-jalan yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan masalah sampah yang tak kunjung usai di negara kita ini. Jadi, masing-masing dari kita adalah pelaksananya.
Dalam hal ini, peran LSM lingkungan hidup juga memang sangat dibutuhkan. Tahun lalu saya sempat bergabung dengan LSM Tunas Hijau di Surabaya, tapi saat ini saya ingin mendirikan LSM lingkungan hidup sendiri yang mampu membantu pemerintah dan juga masyarakat dalam menangani permasalahan lingkungan. Dengan bantuan teman-teman di kampus, saya akan meluangkan waktu untuk terjun ke masyarakat dan mensosialisasikan program-program penyelamatan lingkungan hidup. Untuk pertama, kegiatan ini difokuskan di area lokal karena kebanyakan masyarakat di sini masih berpikiran tradisional dalam penanganan masalah lingkungan hidup, terutama sampah.
LSM yang bekerja untuk lingkungan hidup dibutuhkan untuk membantu mencari solusi-solusi permasalahan lingkungan. Dengan anggota-anggota yang berkomitmen, berdedikasi dan berintegritas tinggi diharapkan peran serta LSM lingkungan hidup di masa yang akan datang semakin berpengaruh.
Saat ini, Jababeka sudah mengadakan kerjasama dengan EIE (Eco Industrial Estate) Asia untuk menangani permasalahan lingkungan di sekitar daerah industrinya tapi hal itu belumlah cukup tanpa adanya kesadaran dan peran serta warga masyarakat akan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Sudah satu tahun lebih sejak hari pertama berkuliah di President University, Cikarang. Saat itu, perumahan mahasiswa terletak sekitar tiga kilometer dari kampus sehingga pihak universitas harus menyediakan dua unit bis kampus yang mengantar jemput mahasiswanya. Coba bayangkan, kuliah kami dimulai dari Senin hingga Jumat dan setiap harinya bis harus mengendarai jarak kampus-asrama-kampus beberapa kali. Berapa banyak gas emisi yang dikeluarkan bis setiap harinya? Itu merupakan salah satu faktor pemicu polusi udara. Tapi sejak bulan Juni lalu, asrama mahasiswa dipindahkan ke perumahan mahasiswa yang baru yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dan hal itu membuat pihak universitas tidak lagi menyediakan jasa bis kampus karena mahasiswa setiap harinya harus berjalan kaki ke kampus dan pulang lagi ke asrama, kami menyebutnya “Akademia Student Housing.” Mahasiswa dari Vietnam dan China pun benar-benar menikmati suasana seperti ini bahkan tidak sedikit mahasiswa yang mengendarai sepeda untuk transportasi hariannya.
Lebih jauh lagi, pemindahan asrama mahasiswa memang banyak membawa dampak positif untuk lingkungan sekitar kampus dan student housing itu sendiri. Tingkat polusi udara bisa ditekan karena tidak adanya penggunaan jasa bis kampus apalagi ditambah dengan keberadaan jalur hijau atau boulevard di sepanjang jalan Ki Hajar Dewantara, Cikarang Baru yang membuat suasana Education Park di sekitar President University lebih segar dan rindang. Keadaan lingkungan sekitar kampus masih alami dan belum banyak terjamah oleh tangan-tangan manusia yang ingin membangun gedung-gedung. Di sekitar kampus masih dapat dilihat sawah yang menghampar hijau dan mengalir sungai di tengahnya.
Bagaimanapun juga, lingkungan di sekitar kita masih harus dikelola lebih serius lagi untuk merasakan hasil yang lebih nyata. Keinginan saya sudah bulat untuk memiliki sebuah LSM yang didirikan atas dasar kesadaran dan kecintaan akan lingkungan hidup. Saya lihat, memang salah satu solusi yang tepat untuk menangani masalah lingkungan adalah LSM atau organisasi-organisasi kemahasiswaan yang peduli akan kehidupan lingkungan yang berkelanjutan. Coba sejenak kita pikirkan, kalau saja setiap universitas yang ada di Indonesia memiliki satu organisasi atau bahkan lebih yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan mereka peduli akan lingkungan dan perkembangan komunitas di sekitar universitas mereka. Berapa luas area yang sudah dapat ditangani dengan bantuan mahasiswa yang bekerja untuk lingkungannya.

Dalam hal ini, pemerintah Indonesia sudah terbantu oleh para mahasiswa. Kenapa harus mahasiswa? Karena bukan kakek nenek kita atau orang tua kita yang akan menikmati dan merasakan kehidupan dua puluh sampai tiga puluh tahun lagi melainkan kita. Mahasiswa adalah generasi yang akan hidup di masa itu dan karena itulah permasalahan ini menjadi tanggung jawab kita bersama.
“Kalau bukan kita siapa lagi?” pertanyaan ini tentunya sudah sering kita dengarkan. Kita, yang harus menyelesaikan dan memikirkan permasalahan serta jalan keluar untuk masalah-masalah lingkungan hidup yang saat ini sedang kita hadapi. Saya teringat, ketika tahun lalu saya menghadiri peresmian hutan kota di tepi Kali Mas Surabaya oleh Menteri Lingkungan Hidup pada saat itu, Bapak Nabiel Makarim dan beliau berpesan agar generasi muda Indonesia harus berperan aktif dalam menjaga lingkungan hidup.
Do It Now! Aturan pertama dalam buku “The Personal Efficiency Program” yang ditulis oleh Kerry Gleeson harus kita terapkan dalam penanganan masalah lingkungan hidup yang semakin serius. Jangan menunda-nunda lagi untuk menyelesaikannya, lakukan sekarang juga pasti semuanya akan terselesaikan secara perlahan-lahan dan pada tahun 2020 di mana kita sudah menjadi orang-orang dewasa, kita akan melihat hasil nyatanya dan menikmati hasil kerja keras kita selama belasan tahun. Tidak ada yang rugi kalau kita mau dan ikhlas untuk turun tangan membantu penanganan masalah lingkungan hidup ini. Kita harus memperhatikan dan memikirkan pembangunan lingkungan yang berkelanjutan sebagai bentuk kesadaran kita akan kehidupan.
Kita harus melihat diri kita dulu dan berpikir sebelum mengadakan pembangunan gedung-gedung pencakar langit. Saat ini Jakarta sudah penuh sesak dengan berbagai macam gedung dan bangunan perumahan, polusi udara dan radikal bebas. Kita pikirkan iklan layanan masyarakat yang sering diputar di televisi. Banyak bangunan-bangunan liar di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung, kotoran, limbah rumah tangga tapi setiap orang yang tingal di daerah itu menggunakan airnya untuk mandi, buang air, mencuci pakaian, mencuci makanan dan aktivitas kehidupan lainnya. Apakah kita tidak malu dengan hal itu? Di balik gedung-gedung yang menjulang megah masih ada aktivitas kehidupan yang tidak memenuhi standar-standar hidup sehat dan bersih. Bagaimana kalau anak cucu kita ditanyai mengenai hal itu nantinya? Haruskah mereka yang menanggung permasalahan yang tidak kunjung usai ini?
Sekarang saatnya kita memikirkan solusi-solusi dan pemecahan masalah untuk menangani problematika lingkungan hidup yang sedang kita hadapi. Seperti yang saya utarakan di paragraf sebelumnya bahwa kita membutuhkan para investor, konseptor dan pelaksana yang mampu mendedikasikan diri untuk berperan serta mencarikan jalan keluar masalahnya. Investor menanamkan modal untuk penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para konseptor yang menciptakan solusi-solusi untuk diaplikasikan oleh para pelaksana yang terjun langsung ke lapangan dengan cara mensosialisasikan program-program untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Ketiga peran ini harus selalu ada selama proses penanganan masalah atau sebaliknya maka rencana-rencana yang telah dibuat tidak bisa berjalan secara optimal, efisien dan efektif.
Lebih jauh lagi, kita juga harus memperhitungkan peran aktif organisasi, institusi ataupun LSM yang bergerak dan menangani masalah-masalah di bidang lingkungan hidup karena orang-orang yang bekerja pada organisasi tersebut kebanyakan telah mendedikasikan diri mereka untuk lingkungannya. Bahkan, kalau memungkinkan, kita bisa membangun kerjasama dengan organisasi-organisasi lingkungan hidup yang bertaraf internasional seperti Grennpeace, UNESCO, AEON dan lainnya sebagai perbandingan pembelajaran atau referensi solusi-solusi yang digunakan di negara-negara lain dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan hidupnya. Program-program mereka itu pasti akan lebih membantu kita.
Bagaimanapun juga, kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia harus ambil bagian dalam menyelesaikan masalah ini karena kitalah yang akan hidup dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Jadi, kita harus mulai dari sekarang. Jangan menunda sampai besok atau lusa. Kita mulai dari diri kita, keluarga kita, orang-orang di sekitar kita dan juga bangsa kita nantinya. Sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil. Mulailah berkreasi dan berinovasi dengan ide-ide cemerlang untuk menyelesaikan masalah global ini misalnya dengan menciptakan pembangkit listrik yang menggunakan sampah-sampah organik – pembangkit listrik tenaga kulit pisang (seperti yang ditulis di majalah Intisari Oktober 2004). Apalagi saat ini sedang maraknya diperkenalkan green computer, green marketing, green advertising, dan masih banyak lagi penemuan-penemuan lainnya yang ramah lingkungan.
Apalagi yang kita tunggu? Ayo sekarang kita singsingkan lengan baju kita bersama-sama berperang melawan perusakan lingkungan hidup, perjuangan belum selesai. Masih banyak tugas-tugas yang harus kita selesaikan untuk bisa bertahan hidup dan memperbaiki tingkat kehidupan kita sebagai manusia yang ada di muka bumi ini. Kita harus mencintai alam kita dan melestarikannya karena kita adalah generasi berikutnya yang akan menikmati kehidupan dan lingkungannya dan karena kita peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Sustainable Living through Youth Empowerment

Standard

This essay was published for the President Scientific Journal in 2006. Some pictures are missing during the upload. So sorry about this.
by: Mohammad Reiza
(Environmental Teenage Ambassador of Indonesia)

Abstract
Environment condition on earth is now under a serious threat if we do not nurture it in appropriate synergistic steps. It is about making our planet as a better place to live in. Sustainable living is the main purpose of these environmental conservation programs by creating other possible and alternative energy sources that last longer. Besides making new innovative environmentally-friendly products, all the people in the world should start “the green action” from themselves.
This is the responsibility of each of us to safe our planet from further serious damages. It is us, today’s human being who will live on earth in the next couple of centuries. The earth is getting older by now and surely in few more centuries to go. Humankind should not endanger themselves by contributing the increase of global warming phenomena. In contrast, people throughout the world should together work out the global environmental problems with the integration of global human empowerment synergy program.

Environmental Ethics, Sustainability Living and the Synergy of Human Empowerment

What is sustainable living?
Sustainable Living is about making smart choices in our daily lives to minimize the environmental impacts and problems caused by our lifestyles. Living sustainably does not mean reducing the quality or scope of our lives- but does require us to look at how we currently do things, to become aware and responsible for the environmental impacts that our choices and actions create, and actively work towards changing our impacts.
Sustainable Living is about all of us using creativity, commitment and innovation to address current problems and prevent future crises. The idea of making our lifestyles ‘sustainable’ means living in a way that enables our society to meet current needs (food, buildings, transport etc) in a way that keeps the earth (the natural environment) in a healthy state for the next generation to come. However sustainable living is very different to our current way of life and needs much change to happen – that’s where you come in!

Taking responsibility
While some problems have arisen from decisions and actions made generations ago, right now, every single person makes hundreds of choices each week that directly affect the quality of air we breathe, the quality of water we drink, the amount of greenhouse gases emitted into the atmosphere, the amount of natural resources being used, and the type and amount of waste generated. We have enough knowledge, technologies and resources available right now to dramatically reduce our environmental impact and address and prevent many of the current problems…but to make a positive impact, commitment, concern and responsibility are needed.
There are many things we can do to make a difference. Here are just a few ideas: save electricity or use green power (renewable energy), bike, bus, efficient car pool and walk rather than drive, plant trees, avoid waste. If you can’t, recycle and reuse packaging and products, buy environmentally sound products, choose good ‘energy star’ products, use solar energy, develop a personal environmental code of ethics and of course invent and create your own solutions.

Tips for getting started and Ideas
1.    Identify the problem.
2.    Research the problem (use informal sources, institutional sources, scholarly sources and journalistic).
3.    Develop ideas and possible solutions.
4.    Explore your ideas with drawings, models or computer models.
5.    Test and evaluate the environmental and social benefits of your ideas.
6.    Present your design or solution – remember the way it is presented can help sell your ideas.

Ideas
We encourage you to identify environmental problems that have particular importance for you and your community. For every environmental problem you can see- there are usually hundreds of great solutions to be explored. Here are some ideas:
1.    Energy – Design a strategy for reducing energy demand in the home or at school. Redesign your home or school or create an alternative energy system that uses renewable energy sources or highly advanced technologies.
2.    Transport – Investigate feasible alternatives to reduce dependence on private car travel. Design a carpooling strategy that really works. Or even redesign your suburb or whole city.
3.    Ecotourism – Research and design an environmentally friendly resort or investigate the ecological impacts of current methods of travel.
4.    Food and products – Design farming methods that don’t cause erosion, or depend on chemicals and fertilizers, or require destruction of native bush land. Design a new product (building, clothing, furniture etc) that uses natural or recycled materials. Or design a marketing campaign for the existing natural textiles.
5.    Lifestyle – Reinvent your new environmentally friendly lifestyle and share with your families and friends to make the more aware of the importance of sustainable living through the integral human development as well as teenage empowerment.

All of those things above should be regularly maintained to get the ultimate result of environment preservation. In succeeding the program of environmental campaign, it is highly recommended to involve more children and teenagers as the participants of global environment actions. In most developed country like Indonesia, the emphasis is on young people because they are the key people in the success of environmental sustainability.
This is also encouraged that the growth of environmental Non government organizations (NGO) should be appropriately increased through out the world. The important roles of environmental NGO are required to support and motivate people towards positive activities in regards of global environmental issues. Once they have god relationship with the society, it is even easier to coordinate them to get involved in the activations organized.
Furthermore, the action is starting from us, ourselves. Not everybody else but us right now – no delay. If we are already highly aware of the importance of sustainable living, we will keep ourselves aware of any new environmental issues around us. First, start it from us then we motivate and encourage others to support our actions and activities in accordance to environmental campaign actions.
This is definitely not easy to make people, especially in most developed countries, to get involved in any particular environment- related activity. Yet, they see no importance at all t work on environmental issues. This problem should be well tailored by teaching children and teenagers about environmental imperatives as well as giving short workshop, or sort things that could escalated their awareness of environment.
Time after time, people will see the urgency of environmental conservation after they get bad effects on environmental problems. Most of the time, they are conscious after everything is a bit late to solve. We have to keep this negative mindset away from us-curing than preserving-so that we have ability to predict what kind of possible environmental problems, which are likely to happen in the future, and make deep analysis on how to conserve particular environmental problems.

Human Development Index
Source: UNDP, Human Development Report 2004.
From the data above we can conclude that Indonesia needs to reorganize the country’s human development program to overlap other Asian countries. It is starting from us, the next generation who will be living in another next decades.
In 27 years time, other Asian countries also made significant changes and improvements in their human development program. For example, Vietnam has developed its human resources drastically since 1980s. It indicates that more developing Asian countries build its country very fast. If Indonesia does not work out the human development program, the country will be left behind by Vietnam in a couple of years to go. Meanwhile, Malaysia is in the top of its human development program among other Asian countries.
Indonesia has to boost the program of human empowerment to succeed the human development program. It has to start empowering the teenagers as they will be the future of Indonesia. The emphasis is on youth empowerment as surely they will bring the country into national condition betterment.
China lately is growing very fast in terms of economic growth, catching up the missing links with other countries in the world. This fact should make us more aware of the importance of national human resources quality through the integral human development as well as teenage empowerment.

Education Index
Source: UNDP, Human Development Report 2004.

Through education, government will be obviously able to succeed the nation’s environmental problem through the integral part of teenage empowerment programs throughout the country. The diagram above shows that education in Indonesia is still very poor compared to other Asian countries.
The education level in a country truly will support the success of environmental problem-solving process. The higher the education index, the higher the quality of the environment in a country will be. People with appropriate education will be more aware of the importance of the environmental safety and security.
Somewhat, through education, teachers can inform and persuade the students about environmental imperatives. If students get regular information and understanding, they will indirectly enforced to be more aware of environmental issues. It means, a subject of topic regarding environment perspectives should be well designed to be presented to students.
From this point of view, we can identify that ideas on environmental protection should come up in every education institution to stimulate students to be able to encourage themselves to help the surroundings to work out particular environmental problems with their own initiatives.

Student Performance
(The combined reading, scientific, and mathematical literacy scales—mean score) Source: Unesco.
Country    Reading
Literacy Rate    Mathematical
Literacy Rate    Scientific
Literacy Rate
Indonesia    371    367    393
Argentina    418    388    396
Hong Kong    525    560    541
Korea    525    547    541
Mexico    422    387    422
Thailand    431    432    436

From the table above, we can see that student performance in Indonesia compared to student performance in other countries in the world is very poor. The Indonesian government should take steps for the improvement of this condition, so that we can catch up and overlap other countries, at least Asian countries.
In reading literacy, mathematical literacy and scientific literacy, Indonesia is left far behind by Thailand-same country in Southeast Asian region. It means that the Indonesian government should be able to develop the quality of the education system as well as the teaching methodology to increase the Indonesian performance rate.
The government of Indonesia should increase the reading literacy rate throughout the country as reading literacy is very important for people, especially children and teenagers to be able to read all environment-related reading materials or sources. From reading, people will get more knowledge and information towards environment, and then they will be able to sum up the ideas and the contents with innovative solution.
Reading will enrich them and they will be able to get involve in brainstorming sessions with other people to give brand new ideas and innovations. While mathematical literacy will give them numerical ability for environment-related calculation. Scientific literacy is very crucial for people as it will enrich them with all environment-related science and enable them to come up with scientific environment ideas to be discussed with other people to give solutions for some environmental problems in Indonesia.
Technology: Diffusion and Creation
Source: UNDP, Human Development Report 2004.
Country    Internet Users (per 1,000 people, 2002)    Researchers in R&D (per million people, 1990-2001)
China    46.0    584
Indonesia    37.7    130
Malaysia    319.7    160
Philippines    44.0    156
Thailand    77.6    74
Vietnam    18.5    274

The table above gives us information on the number of Internet users per one thousand people and the number of researchers in research and development per million people. Compared to Vietnam, the number of internet users in Indonesia is still small, while, the number of researchers in Indonesia is too small compared to Vietnam with their population.
The more people using the internet, the more people get new knowledge. In the beginning information era, information goes very fast and vivid. For this reason, the government of Indonesia must encourage the people to use the Internet for scientific matters as well as new knowledge search in regard of environment-related issues.
With higher number of population, Indonesia should be able to create much more researchers than Vietnam did. Vast amount of researchers in R&D specifically on environment development will definitely help the government of Indonesia to improve the country’s environment quality as to whether environmental researchers will look for innovative solutions for some environmental problems faced by the country.
Furthermore, Indonesian government should maintain the curiosity and capability of the people to use the Internet connection for the use of environment development and protection; as well as to get involved in research programs with senior researchers to find scientific solutions for some environment problems in Indonesia. Governmental campaign might work and has to be mushroomed throughout Indonesia to get great result from the program.
The Greenhouse Effect

The greenhouse effect is the rise in temperature that the Earth experiences because certain gases in the atmosphere (water vapor, carbon dioxide, nitrous oxide, and methane, for example) trap energy from the sun. Without these gases, heat would escape back into space and Earth’s average temperature would be about 60ºF colder. Because of how they warm our world, these gases are referred to as greenhouse gases.
Have you ever seen a greenhouse? Most greenhouses look like a small glass house. Greenhouses are used to grow plants, especially in the winter. Greenhouses work by trapping heat from the sun. The glass panels of the greenhouse let in light but keep heat from escaping. This causes the greenhouse to heat up, much like the inside of a car parked in sunlight, and keeps the plants warm enough to live in the winter.
The Earth’s atmosphere is all around us. It is the air that we breathe. Greenhouse gases in the atmosphere behave much like the glass panes in a greenhouse. Sunlight enters the Earth’s atmosphere, passing through the blanket of greenhouse gases. As it reaches the Earth’s surface, land, water, and biosphere absorb the sunlight’s energy. Once absorbed, this energy is sent back into the atmosphere. Some of the energy passes back into space, but much of it remains trapped in the atmosphere by the greenhouse gases, causing our world to heat up.
The greenhouse effect is important. Without the greenhouse effect, the Earth would not be warm enough for humans to live. But if the greenhouse effect becomes stronger, it could make the Earth warmer than usual. Even a little extra warming may cause problems for humans, plants, and animals.

Environment and Population in Globalization
Environmental problems are an example of international interdependence and often create collective goods problems for the states involved. The large numbers of actors involved in global environmental problems make them more difficult to solve. To resolve such collective goods problems, states have used international regimes and IOs, and have in some cases extended state sovereignty (notably over territorial waters) to make management a national rather than an international matter.
International efforts to solve environmental problems aim to bring about sustainable economic development. This was the theme of the 1992 UN Earth Summit. Management of environmental issues is complicated by the large numbers of actors involved, which make collective goods problems hard to resolve (individuals may be more tempted to free-ride). The 1992 Earth Summit (UN Conference on Environment and Development) in Rio de Janeiro, Brazil was the largest gathering of state leaders in history.
Global warming results from burning fossil fuels – the basis of industrial economies today. The industrialized states are much more responsible for the problem than are third world states. Solutions are difficult to reach because costs are substantial and dangers are somewhat distant and uncertain.
Damage to the earth’s ozone layer results from the use of specific chemicals, which are now being phased out under international agreements. Unlike global warming, the costs of solutions are much lower and the problem is better understood.
Many species are threatened with extinction due to loss of habitats such as rain forests. An international treaty on biodiversity and an agreement on forests aim to reduce the destruction of local ecosystems, with costs spread among states.
Pollution from industrialization caused great environmental damage in the Soviet Union, contributing to the stagnation and collapse of the Soviet economy – an unsustainable path. Many environmental problems remain in post-Soviet states, such as this heavily polluting nickel plant in Siberia. Today’s poor countries will have to industrialize along cleaner lines to realize sustainable development.
The UN Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) establishes an ocean regime that puts most commercial fisheries and offshore oil under control of states as territorial waters. The United States signed the treaty after a decade’s delay.
Pollution – including acid rain, water and air pollution, and toxic and nuclear waste – tends to be more localized than global and has been addressed mainly through unilateral, bilateral, and regional measures rather than global ones.
The economies of the industrialized West depend on fossil fuels. Overall, these economies import energy resources, mostly oil, whereas the other world regions export them. Oil prices rose dramatically in the 1970s but declined in the 1980s as the world economy adjusted by increasing supply and reducing demand. Prices spiked again around 1991 and have been high since 2000. Such fluctuations undermine world economic stability.
International treaties have been much more successful at addressing ozone depletion than global warming, mostly because the costs of the latter are much higher and the benefits further in the future. A 1997 conference in Kyoto, Japan, set goals for industrialized countries to reduce their output of carbon dioxide and related gases modestly over the next decade, but the goals are not being met. If global warming melts polar ice caps in the coming decades, sea levels could rise and devastate many cities. This crack in the Antarctic ice shelf in 1997, and mounting evidence since, shows that this process is already underway.
Some environmentalists criticize the World Bank and other international institutions promoting economic development in poor countries for interfering destructively in local ecosystems such as rain forests. The green revolution increased yields but shifted patterns of agriculture in complex ways, such as by increasing pesticide and fertilizer runoff. Now genetically engineered crops promise further increases in agricultural productivity – more food on the table – but with environmental consequences that are not fully understood. This corporate president holds a genetically modified seedling, 2001.

Bibliography

Sustainable Living. 2003. Sustainability Living Program in Australia. <http://www.sustainableliving.com.au&gt;. Accessed May 2003.
United States Environmental Protection Agency. 2006. Global Warming Kids Site. <http://www.epa.gov/globalwarming/kids/climatesys.html&gt;. Accessed January 2006.
Wenas, Andre Vincent. 2005. International Relations presentation slides. President University, December.

Sustainable Development through People Empowerment

Standard

This essay was submitted to participate in Bayer Young Environmental Essay 2006 Competition. I made it and I was invited to come to the interview selection in Bogor. I moved on to the Grand Finale session and was invited to take part in the BYEE Eco Camp 2006 in Puspiptek, Serpong, Tangerang. Unfortunately, my lucky star didn’t bring me to win the ticket to Leverkusen, Germany; though I went there eventually in 2007, magnificent…
(Mohammad Reiza – President University)

The wheel of all activities in life is human. It is the people who activate all the ideas and the developments in this ever-changing world. There are illiteracy and education problems in Indonesia. Based on this serious issue, I am organizing a so-called people empowerment program, whose main objective is to create behavioral change toward environmental awareness and sustainable living. To reinforce the success of this program, I have been actively involved in environmental issues for the past four years.

In 2002, I joined Teenage Ambassador of Indonesia Program held by Indonesian Ministry of National Education and AEON 1% Club Japan. It was about “youth empowerment” program through introductory of diverse Japanese environmental issue. This program encouraged me to join the panel of judges of Surabaya Cleanliness Competition 2003 held by the City Government of Surabaya. I also participated in a tree planting program for Surabaya City Park before getting involved in the opening of “City Park” by the former Environment Minister, Nabiel Makarim.

During my study at President University, I have formulated other environmental-related programs. Through the community development program, I empower local people to be more environmentally aware and help them solve some environmental problems in their area by creating a pilot project of environmentally friendly garbage bin that separates different types of garbage. Currently, they are handling the garbage problems by themselves.
Furthermore, I also regularly visit an orphanage to empower the orphans towards environmental awareness and education. As well, I have been working in collaboration with a national newspaper to expose the program. As a result, some friends are encouraged to organize similar activities in the neighborhood near the university.
In 2005, I joined Teenage Ambassador Alumni Meeting in Japan that was attended by around 200 teenage ambassador alumnus of AEON 1% Club from 11 countries. We participated in tree planting festival in Nagoya. Afterwards, I organized an environmental campaign in the university. In addition, I was asked by the university to present my paper in a seminar on people empowerment. My paper is now being published in the university scientific journal.
I am developing the concept of people empowerment and the purpose of this is to empower people with multiple skills and knowledge, especially in environmental issues. I approach local people surround the university with its developing economy through the integration of environmental problems with economic values. I work together with my university friends and lecturers to make these environmental projects successful.
The objectives and the results of these programs are the development of their skills in turning environmental problems into economic values as well as improvement of their living standard. If people are introduced to simple ways to manage environmental problems, they will find out other possible ways by themselves.
In my opinion, as scholars, we have to be actively involved in changing the mindset of Indonesian people through people empowerment program, which will result in behavioral change towards environmental awareness to improve and develop Indonesia’s sustainable living quality.

Abstrak

Standard

Judul Esai    : Partisipasi Remaja Dalam Pembangunan Proyek
Percontohan Pengelolaan Sampah Terintegrasi (PST)
Menjadi Sebuah Situs Ekowista (Sebuah Studi Kasus di
Banjarsari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan)
Penulis            : Mohammad Reiza
Nomor Mahasiswa    : 009 2003 00020
Fakulatas/Jurusan    : Komunikasi / Public Relations
(vi + 31 halaman, 1 gambar)

Bab ini merupakan ringkasan empat bagian isi yang ada di karya tulis ini yang terdiri dari Pendahuluan, Telaah Pustaka, Metode Penelitian dan Pembahasan.

Dalam bagian Pendahuluan dipaparkan bahwa partisipasi remaja menjadi bagian penting hampir di setiap sektor pembangunan. Peranserta remaja memberikan dampak positif terhadap keberhasilan pembangunan Pengelolaan Sampah Terpadu (PST) di Banjarsari yang berubah menjadi sebuah situs ekowisata. Satu pertanyaan diajukan untuk mempelajari lebih jauh tentang hubungan kampanye komunikasi efektif, partisipasi remaja dan lingkungan hidup: “Apakah kampanye komunikasi yang tepat mampu meningkatkan partisipasi remaja untuk membangun proyek percontohan PST menjadi situs ekowisata?” Karya tulis ini mempelajari bagaimana kampanye komunikasi diaplikasikan di masyarakat dengan tingkat kemajemukan yang tinggi dilihat dari karakteristik dan latar belakang dalam pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan dengan harapan untuk meningkatkan tingkat partisipasi remaja di Kampung Banjarsari.

Menurut Wirjoatmodjo (2002), komponen darat dari proyek percontohan UNESCO mengenai Pengurangan Dampak Kota Besar pada Lingkungan Laut memiliki tiga area utama kegiatan: (1) Pembangunan Sebuah Model Kerja untuk Pengelolaan Sampah di Komunitas Lokal, (2) Pembangunan Sebuah Model Kerja untuk Pengelolaan Sampak Organik di Pasar Tradisional, (3) Pendidikan Lingkungan Hidup dan Pengenalan Pengelolaan Sampah dan Prinsip-Prinsip Daur Ulang Kepada Pelajar, Remaja dan Kelompok Masyarakat. Menurut Shea dan Townsend (2005), kampanye komunikasi yang paling sukses adalah mendifinisikan dengan tepat target komunikasi mereka dan membangun pesan-pesan yang sesuai untuk mereka. Target komunikasi di dalam karya tulis ini sudah bisa diidentifikasikan dengan mudah, yaitu remaja. Data dari “Independent Sector” menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang terlibat di dalam pelayanan pada usia dini mengarah kepada internalisasi sikap filantropis yang berlangsung hingga usia dewasa dan diturunkan ke generasi berikutnya (Toppe, C., & Golombek, S., 2002).

Metoda penulisan yang digunakan dalam karya tulis ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan tipe penelitian ini menggunakan tipe deskriptif kualitatif, di mana peneliti-peneliti mendeskripsikan atau mengkonstruksikan wawancara-wawancara mendalam terhadap subjek penelitian. Hasil wawancara ini kemudian dianalisis dan diinterpretasikan dengan menggunakan kategori-kategori analisis (filling system) yang telah ditentukan dalam analisis domain.

Karakteristik dan ciri demografis Kampung Banjarsari merupakan kelompok masyarakat yang heterogen, dilihat dari tingkat pendidikan, pekerjaan dan ekonomi. Hal ini mempengaruhi para remaja di Banjarsari dalam menyikapi status kampung ini sebagai proyek percontohan PST. Karya tulis ini memberikan simpulan, diantaranya tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan remaja berpengaruh pada tingkat partisipasi mereka dalam pembangunan lingkungan hidup serta klasifikasi mereka di dalam struktur masyarakat. Akhirnya, karya tulis ini juga memberikan beberapa saran, diantaranya meningkatkan kualitas media kampanye komunikasi yang telah digunakan dengan memberikan pelatihan Desktop Publishing kepada remaja dan kesempatan untuk menerbitkan Buletin Banjarsari. Dari sini akan terjadi transfer teknologi komunikasi informasi yang mampu mendukung pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan.

Kata Pengantar

Standard

Partisipasi remaja telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kesuksesan pembangunan nasional. Keaktifan remaja dalam mengusahakan keberhasilan pengerjaan proyek percontohan Pengelolaan Sampah Terpadu (PST). Pemikiran remaja harus diperhitungkan dalam setiap aspek pembangunan dan proses pembuatan keputusan. Hal ini ditujukan untuk mengikutsertakan remaja pada rencana pembangunan nasional sebagai salah satu anggota masyarakat.

Pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam kesuksesan pembangunan. Kondisi lingkungan yang terkendali akan mendukung keberhasilan pembangunan di sektor lainnya seperti kesehatan masyarakat dan sistem tata kota yang terstruktur.

Keberhasilan Banjarsari mengelola proyek percontohan PST tidak lepas dari peran serta remaja. Dengan dukungan UNESCO, dari tahun 2002 hingga 2003 jumlah orang yang datang ke Banjarsari untuk mengikuti pelatihan PST mencapai lebih dari 2.500 orang. Pelatihan ini diadakan supaya mereka mampu menerapkan pelatihan tersebut di lingkungan mereka di berbagai daerah di nusantara.

Dinas Pariwisata DKI pada tahun 2002  telah menetapkan Banjarsari sebagai salah satu tujuan ekowisata di Jakarta Selatan. Keputusan ini dibuat dengan pertimbangan untuk menjadikan Kampung Banjarsari sebagai media pendidikan lingkungan hidup bagi masyarakat banyak. Dengan demikian karakteristik Banjarsari mengalami perubahan dari sebuah proyek percontohan PST menjadi sebuah situs ekowisata di Cilandak Barat.

Remaja memiliki hubungan dan tanggung jawab khusus dalam kaitan dengan lingkungan hidup. Beberapa resiko dan bahaya lingkungan hidup secara tidak beralasan mempengaruhi remaja yang hidup untuk beberapa periode ke depan dengan kondisi lingkungan hidup yang memburuk yang diakibatkan oleh generasi sebelumnya. Remaja dituntut untuk terlibat dalam hal-hal baru yang akan menghasilkan respon efektif dalam tantangan ekologi.

Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara generasi muda – remaja – dengan lingkungan hidup, karena remaja memiliki hak untuk menentukan kondisi lingkungan yang akan mereka tempati dengan sikap yang mereka lakukan saat ini.

I. Pendahuluan

Standard

1.    Perumusan Masalah

Partisipasi remaja menjadi bagian integral hampir di setiap sektor pembangunan. Dampak peranserta remaja yang positif akan memberikan keberhasilan pembangunan Pengelolaan Sampah Terpadu (PST) menjadi sebuah situs ekowisata yang nantinya akan mampu mendukung pembangunan ekonomi untuk warga yang tinggal di area tersebut.

Kondisi ekonomi dan lingkungan hidup di atas akan dianalisa dari sudut pandang Hubungan Masyarakat – komunikasi – dengan mengaplikasikan pendekatan komunikasi sosial melalui partisipasi remaja dan pembangunan lingkungan hidup komunitas untuk keuntungan ekonomi dari komunitas tersebut.

Pendekatan komunikasi partisipatif dalam hal ini akan memberikan kampanye komunikasi yang terkonsentrasi untuk membangun area tersebut menjadi satu situs ekowisata dan memberdayakan remaja untuk mengelola dan menangani pembangunan daerah tersebut. Program ini bertujuan untuk memotivasi remaja untuk mengubah situs proyek percontohan ramah lingkungan menjadi sebuah situs ekowisata yang memiliki nilai tambah untuk keuntungan ekonomi.

Menurut Program Aksi Dunia untuk Remaja dari PBB – WPAY (World Programme of Action for Youth), remaja memiliki tanggungjawab – peranan penting – dalam melestarikan dan membangun kondisi lingkungan hidup. Penelitian ini mempelajari efektifitas kampanye komunikasi pada tingkat partisipasi remaja dalam proses pembuatan keputusan dan peningkatan ekonomi dari daerah tersebut.

Situs Banjarsari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan diketahui masyarakat luas sebagai proyek percontohan PST yang didukung oleh UNESCO Jakarta mulai dari akhir tahun 90an. Hal ini merupakan salah satu tanggungjawab remaja yang ada di kampung Banjarsari untuk melestarikan dan membangun area tersebut dengan wawasan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, partisipasi remaja menjadi pertimbangan penting untuk didiskusikan.

Peranserta aktif remaja bisa didukung melalui kampanye komunikasi berkelanjutan yang berfokus pada pembangunan proyek percontohan PST tersebut menjadi situs ekowisata yang memiliki nilai tambah yang berkelanjutan yang mendorong para remaja untuk terlibat dalam pembangunan dan pengorganisasian.

Pokok bahasan dalam esai ini akan menekankan permasalahan spesifik dari kampanye komunikasi yang tidak sesuai dengan preferensi remaja dan beberapa yang sesuai untuk diaplikasikan pada karakter dan preferensi remaja. Penelitian akan menekankan pada kampanye komunikasi yang tepat yang dapat digunakan untuk mengerakkan generasi muda – remaja – Indonesia.

Topik ini dipilih dengan alasan bahwa setelah mendapatkan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan mengikuti beberapa acara dan kegiatan yang menekankan pengelolaan lingkungan hidup, sehingga penulis menjadi berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang masalah ini. Ketertarikan individu pada komunikasi dan partisipasi remaja merupakan salah satu alasan untuk mengembangkan konsep proyek percontohan PST menjadi sebuah situs ekowisata dengan partisipasi remaja melalui kampanye komunikasi yang efektif.

Melalui penyampaian masalah ini, masyarakat, secara umum di Indonesia dan khususnya di beberapa daerah yang telah mengaplikasikan beberapa solusi mengenai kampanye komunikasi dan partisipasi remaja, memahami fungsi dan bentuk pendekatan komunikasi serta cara yang digunakan untuk menjembatani partisipasi remaja dan pembangunan lingkungan hidup di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di Asia Tenggara.

Menelaah lebih jauh cakupan dari esai ini, penelitian pada topik-topik yang berkaitan dilakukan di proyek percontohan UNESCO di Kampung Banjarsari yang berlokasi di Cilandak Barak, Jakarta Selatan. Pembelajaran penelitian akan mencakup tiga pokok bahasan: komunikasi, lingkungan hidup dan partisipasi remaja.

2.    Gagasan kreatif

Sangatlah penting untuk menyediakan beberapa latar belakang permasalahan dan menyusun sebuah konteks yang jelas dengan mengidentifikasi kondisi lingkungan hidup saat ini, sebelum menginvestigasi peranan yang bisa dilakukan oleh remaja dalam kaitan permasalahan lingkungan hidup. Karakter, tingkat dan resiko permasalahan lingkungan hidup sangat beragam dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia; misalnya perbedaan karakter lingkungan hidup di daerah pedesaan dan perkotaan. Hal ini akan memberikan sudut pandang yang lebih spesifik mengenai pokok bahasan dalam esai ini.

Barangkali sangat masuk akal untuk memulai dengan pandangan luas mengenai kondisi lingkungan hidup di Jakarta, dengan memberikan sebuah gambaran dari kondisi terkini, juga evaluasi rinci dan informatif mengenai kondisi sebelumnya dan kecenderungan pembangunan yang akan datang.

Penggunaan indikator nasional sangat penting karena indikator lokal dan daerah terkadang kurang akurat. Sebagai contoh, data statistik barangkali menunjukkan menurunnya partisipasi remaja dalam pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan, tetapi hal ini bisa jadi dikarenakan semakin banyak pembangunan yang tidak memberikan kesempatan kepada remaja untuk berpartisipasi dalam pembangunan tersebut. Padahal remaja merupakan salah satu pemain utama dalam kesuksesan pembangunan nasional.

Satu wilayah seperti Banjarsari telah berhasil menjadi satu proyek percontohan PST yang didukung oleh UNESCO tetapi hal ini tidak lepas dari partisipasi aktif remaja di kampung tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan daerah lain yang berusaha mengembangkan konsep PST tanpa adanya dukungan atau partisipasi remaja di daerahnya. Tampak jelas bahwa indikator nasional tidak demikian substansial, tetapi mereka memberikan satu poin referensi dan membantu mengendalikan dan meningkatkan partisipasi remaja dalam konteks pembangunan nasional.

Indikator nasional bisa dijabarkan ke dalam dua kategori yang disebut ukuran dari taraf hidup warga yang layak dan evaluasi kondisi ekosistem nasional di mana semua proses kehidupan bergantung. Dua macam kategori ini memberikan kesan-kesan yang sangat berbeda mengenai lingkungan hidup – alam – atau bahkan keberadaannya di dalam krisis ekologi nasional.

Lebih jauh lagi, kampanye komunikasi yang efektif berperan penting dalam keberhasilan peningkatan partisipasi remaja dalam pembangunan lingkungan hidup. Berikut ini gambaran singkat mengenai kerangka kerja dan/atau konsep dari esai ini mengenai hubungan kampanye komunikasi efektif, tingkat partisipasi remaja dan tingkat pembangunan lingkungan hidup.

Gambar 1. Hubungan antara kampanye komunikasi efektif, tingkat partisipasi remaja dan pembangunan lingkungan hidup.

3.    Pertanyaan Masalah

Dalam esai ini, satu pertanyaan diajukan untuk mengembangkan pokok bahasan dan mengetahui lebih jauh apakah pembangunan lingkungan berkelanjutan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah: “Apakah kampanye komunikasi yang tepat mampu meningkatkan partisipasi remaja untuk membangun proyek percontohan PST menjadi situs ekowisata?”

Pertanyaan tersebut di atas merupakan sekilas penarik perhatian untuk mengembangkan penelitian lebih jauh dan juga teori yang dikumpulkan untuk menyusun konsep asli yang bisa diaplikasikan tidak hanya di area terkait – yang mengaplikasikan program ramah lingkungan – tetapi juga di beberapa area lainnya di Indonesia yang menawarkan kemungkinan konsep ini untuk dikembangkan dalam sektor lingkungan hidup dan ekonomi dengan duplikasi proyek terintegrasi.

4.    Tujuan dan Manfaat

4.1. Tujuan

Dalam esai ini, terdapat rencana pencapaian yang akan di lengkapi melalui rangkaian penelitian terkonsentrasi pada komunikasi praktis dan terapan – hubungan masyarakat – pada area kerja, di dalam kondisi lingkungan hidup saat ini atau yang sedang berjalan di area yang dipilih – Kampung Banjarsari – di Jakarta Selatan dan tingkat pertisipasi remaja saat ini. Di samping itu esai ini juga mengandung analisis proses pembangunan daerah tersebut menjadi sebuah situs ekowisata.

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana keragaman komunikasi diaplikasikan di masyarakat yang memiliki tingkat kemajemukan yang tinggi dilihat dari karakteristik dan latar belakang dalam pembangunan kondisi lingkungan hidup dengan harapan untuk meningkatkan tingkat partisipasi remaja di Kampung Banjarsari.

Lebih jauh lagi, esai ini juga ingin menawarkan kemungkinan lebih banyak lagi untuk menciptakan metode kampanye komunikasi yang secara luas dapat diaplikasikan di berbagai wilayah dengan latar belakang demografis yang berbeda. Hal ini akan menjadi pendekatan komunikasi yang efektif yang dapat digunakan untuk mendukung warga dalam pembangunan lingkungan hidup mereka dan secara swadaya meningkatkan standar ekonomi kehidupan mereka.

Pada akhirnya, esai ini menitikberatkan kampanye komunikasi yang tepat, partisipasi remaja dan pembangunan lingkungan hidup yang nantinya mampu memacu pertumbuhan ekonomi dan membantu menekan tingkat pengangguran remaja di perkampungan melalui kampanye komunikasi terstruktur.

4.2. Manfaat

Esai ini diharapkan bisa memberikan banyak manfaat untuk beberapa pihak terkait: pemerintah, praktisi komunikasi, praktisi lingkungan hidup, remaja dan warga masyarakat.

Dari esai ini pemerintah diharapkan lebih memberikan kesempatan kepada remaja – generasi muda Indonesia – untuk berpartisipasi dalam setiap aspek pembangunan nasional. Manfaat esai ini untuk para praktisi komunikasi dan lingkungan hidup adalah agar mereka dapat melihat berbagai kemungkinan kampanye komunikasi efektif untuk remaja yang bisa digunakan untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam pembangunan dan pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Para remaja dan warga di harapkan mampu lebih berperan aktif dalam pembangunan lingkungan hidup di sekitar mereka yang nantinya juga dapat mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi di daerah mereka. Pada dasarnya, pengembangan konsep ini juga ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah secara swadaya ataupun dengan dukungan dari lembaga pemberi bantuan dana.