IV. Pembahasan

Standard

Bab ini terdiri dari kesimpulan dari pembelajaran, kritik-kritik dari pembelajaran, batasan-batasan dan saran-saran untuk pembelajaran dan/atau penelitian lebih lanjut. Selain itu, bab ini mengulas lebih jauh tentang hasil penelitian – wawancara telepon – dan juga pengolahan data serta perumusan simpulan dan saran untuk pengembangan pembelajaran serupa di masa yang akan datang.

1.    Analisis Permasalahan

Karakteristik dan ciri demografis Kampung Banjarsari yang dipaparkan dalam bab sebelumnya menjelaskan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah tersebut adalah masyarakat yang heterogen, dilihat dari tingkat pendidikan, pekerjaan dan ekonomi. Hal ini tentunya mempengaruhi para remaja di Banjarsari dalam menyikapi status kampung ini sebagai proyek percontohan PST.

Selain itu, para pemuka masyarakat sangat terbuka dalam menerima pemikiran-pemikiran baru mengenai pengelolaan dan pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Sikap ini juga mempengaruhi kesempatan yang diberikan oleh Komite Lingkungan kepada remaja untuk berpartisipasi dalam pengelolaan PST sehingga akhirnya di tahun 2002 Banjarsari diangkat menjadi salah satu situs ekowisata.

Hal positif lainnya ialah lokasi Banjarsari yang mudah dicapai dengan transportasi umum sehingga jumlah orang yang berkunjung ke kampung ini semakin banyak dari hari ke hari untuk belajar dan mengikuti pelatihan pengelolaan sampah terpadu dan daur ulang. Sejalan dengan semakin tingginya animo pengunjung yang datang ke kampung ini, semakin banyak pengaruh dari luar masuk ke dalam kampung dan mempengaruhi karakteristik demografis Banjarsari. Ternyata, kampanye komunikasi yang diterapkan oleh Komite Lingkungan mampu menarik perhatian banyak pengunjung dari wilayah lain di Jakarta maupun dari kota-kota lain di Indonesia.

Lebih jauh lagi, tingkat inisiatif dan kesadaran warga Banjarsari yang tinggi akan pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup mendukung kesuksesan proyek percontohan pengelolaan sampah terpadu ini menjadi situs ekowisata yang ramai dikunjungi orang dari berbagai daerah di Indonesia. Banjarsari pun akhirnya menjadi pusat pelatihan PST bagi para pengunjung yang ingin mengembangkan konsep ini di daerah mereka masing-masing.

Dari keempat pokok bahasan di atas, keberhasilan mereka dalam mengelola lingkungan hidup tidak lepas dari metode kampanye komunikasi yang mereka gunakan sejak dari pembuatan buletin hingga selebaran (leaflets) berwarna. Dinas Pariwisata DKI juga membuat brosur wisata hanya karena Banjarsari ditetapkan sebagai tujuan ekowisata.

Kampanye komunikasi yang dilakukan oleh tiga pihak sekaligus: Komite Lingkungan (warga), UNESCO kantor Jakarta dan Dinas Pariwisata DKI merupakan kombinasi pemikiran yang kuat. Kampanye komunikasi yang dibuat dari hasil pemikiran warga, pemerintah dan organisasi internasional merupakan nilai tambah untuk meningkatkan kualitas metode kampanye komunikasi yang digunakan untuk mendorong partisipasi remaja.

Wirjoatmodjo (2004) mengatakan bahwa dari tahun ke tahun, jumlah warga yang aktif melakukan pembibitan dan menjual tanaman obat terus bertambah. Berdasarkan pernyataan ini, dapat dianalisa dan simpulkan bahwa partisipasi remaja pun meningkat dari tahun ke tahun.

Kampanye komunikasi yang efektif dan sesuai dengan karakteristik remaja – generasi muda, mampu mendorong dan mendukung mereka untuk lebih terlibat dalam pengelolaan PST. Kampanye komunikasi tepat guna harus direncanakan dengan cermat agar mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Analisis domain yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil penelitian mengkategorikan beberapa hal sebagai indikator tingkat partisipasi remaja dan juga efektifitas kampanye komunikasi yang digunakan untuk pembangunan lingkungan hidup.

Kategori pertama, yaitu status ekonomi yang menganalisis pendidikan, pekerjaan dan penghasilan warga, khususnya remaja berpengaruh pada efektifitas kampanye komunikasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan warga dan/atau remaja akan mendorong tingginya partisipasi mereka dalam pembangunan lingkungan hidup.

Kategori kedua, yaitu klasifikasi dalam masyarakat yang mendeskripsikan apakah mereka tergabung di dalam keanggotaan Komite Lingkungan, Karang Taruna ataupun organisasi lingkungan lokal, yang juga turut mempengaruhi tingkat partisipasi remaja dalam program PST. Remaja yang tergabung di dalam keanggotaan organisasi di atas akan berpartisipasi lebih intensif dibandingkan dengan remaja yang tidak tergabung dalam organisasi manapun.

Kategori yang ketiga adalah tingkat terpaan kampanye komunikasi yang digunakan baik untuk meningkatkan partisipasi remaja maupun untuk mempromosikan program PST di Banjarsari. Tingkat terpaan yang tinggi akan mempengaruhi kenaikan jumlah partisipasi remaja. Sebaliknya, tingkat terpaan rendah/jarang hanya mempengaruhi sebagian kecil peningkatan partisipasi.

Jenis media yang digunakan dalam kampanye komunikasi merupakan kategori kelima yang kita gunakan untuk menganalisa partisipasi remaja. Media yang digunakan adalah buletin, mading dan brosur. Sesuai dengan karakteristik remaja yang menyukai hal-hal yang ekspresif dan partisipatif, membuat buletin merupakan media yang efektif dalam kampanye komunikasi. Di sini mereka terlibat sebagai wartawan kampung yang bertugas untuk mengumpulkan dan menulis berita di buletin.

Kategori berikutnya yaitu opini tentang kampanye komunikasi lingkungan hidup. Semakin menarik kampanye komunikasi itu dikemas dan semakin  banyak partisipasi remaja dalam program ini, remaja akan menunjukkan sikap kesukaan mereka terhadap program kampanye komunikasi yang dilakukan. Dalam hal ini, kampanye komunikasi harus membuat target spesifik yaitu remaja.

Kategori berikut yang ditekankan adalah sikap remaja terhadap program lingkungan hidup, keanggotaan Komite Lingkungan dan platform kegiatan. Semakin menarik program lingkungan hidup dikemas, semakin tinggi tingkat partisipasi remaja. Selain itu, jika program tadi ditujukan untuk remaja dan disusun sedemikian rupa sehingga mendorong remaja untuk lebih terlibat maka partisipasi remaja akan meningkat.

Kategori ketujuh dari analisis domain ini adalah perilaku partisipasi. Hal ini tergantung dari keragaman program kampanye komunikasi yang dibuat dan dikemas oleh Komite Lingkungan. Dengan beragamnya program yang dibuat mulai dari tour keliling kampung hingga akhir pekan keluarga (family weekend), tingkat partisipasi remaja meningkat seiring dengan bertambahnya ragam kegiatan yang ditawarkan oleh Komite Lingkungan Banjarsari.

Kategori kedelapan (terakhir) adalah alasan remaja berpartisipasi. Terdapat beragam alasan mengapa mereka berpartisipasi dalam program PST, mulai dari ingin menambah ilmu dan membagikannya kepada orang lain hingga berpartisipasi karena ajakan teman. Semakin banyak alasan berpartisipasi tersedia, semakin tinggi tingkat partisipasi remaja.

2.    Simpulan

Dari hasil analisis permasalahan di atas, dapat disimpulkan delapan hal utama yang dibuat berdasarkan kategori-kategori analisis yang digunakan.

Tingkat pendidikan, pekerjaan dan penghasilan remaja berpengaruh pada tingkat partisipasi mereka dalam pembangunan lingkungan hidup. Selain itu, klasifikasi mereka di dalam struktur masyarakat, apakah mereka anggota Komite Lingkungan, Karang Taruna ataupun organisasi lingkungan sangat berpengaruh kepada intensitas dan frekuensi mereka untuk berpartisipasi di dalam kegiatan pembangunan lingkungan hidup – PST – Banjarsari.

Tingkat terpaan kampanye komunikasi yang ditujukan untuk remaja juga mempengaruhi keikutsertaan mereka dalam program-program pengelolaan sampah terpadu di Banjarsari. Analisis permasalahan yang disrumuskan di atas juga mengindikasikan bahwa jenis media yang digunakan dalam kampanye komunikasi juga berpengaruh pada kenaikan jumlah partisipasi remaja dalam pembangunan PST Banjarsari menjadi situs ekowisata di Jakarta Selatan.

Lebih jauh, opini remaja mengenai kampanye komunikasi lingkungan hidup yang digunakan juga menentukan tingkat partisipasi mereka dalam menyukseskan proyek percontohan PST Banjarsari. Kesukaan dan/atau ketidaksukaan remaja terhadap kampanye komunikasi yang digunakan merupkan hal yang esensial yang mempengaruhi peran serta mereka di dalam pembangunan lingkungan hidup.

Selain itu, bagaimana program kampanye komunikasi lingkungan hidup itu dikemas berpengaruh pada pola pikir remaja dalam berpartisipasi. Semakin menarik program dikemas semakin banyak remaja akan berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan hidup. Tidak hanya itu, perilaku remaja terhadap kampanye komunikasi yang digunakan juga menentukan seberapa tinggi mereka akan berpartisipasi.

Kesimpulan terakhir dari analisis permasalahan ini adalah mengenai alasan remaja berpartisipasi dalam pembangunan lingkungan hidup – PST – Banjarsari menjadi situs ekowisata. Semakin banyak kampanye komunikasi menyediakan alasan untuk remaja berpartisipasi, semakin kecil kemungkinan mereka untuk menghindar dan mencari alasan untuk tidak berpartisipasi.

Simpulan-simpulan di atas dibuat untuk mempermudah perumusan saran dan/atau rekomendasi yang diberikan di bagian selanjutnya.

3.    Saran

Merujuk ke simpulan di atas, dirumuskan beberapa saran dan rekomendasi berupa kemungkinan atau prediksi transfer gagasan dan adopsi teknolgi dengan merujuk ke delapan kategori yang digunakan:

1.    Remaja hendaknya tidak hanya menempuh pendidikan sampai tingkat lanjutan atas tetapi sebaiknya melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang universitas untuk lebih mendapatkan gambaran dan transfer ilmu pengetahuan yang lebih mendalam tentang pentingnya pembangunan lingkungan hidup oleh generasi muda;
2.    Remaja juga hendaknya berinisiatif untuk bergabung ke dalam keanggotaan organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna ataupun organisasi lingkungan hidup. Jika memungkinkan, di dalam Komite Lingkungan Banjarsari, disusun panitia tersendiri yang mengurus masalah kepemudaan dan partisipasi mereka di dalam program PST;
3.    Tingkat terpaan kampanye komunikasi hendaknya ditingkatkan menjadi lebih rutin untuk meningkatkan kesadaran warga, khususnya kesadaran remaja akan pentingnya berpartisipasi dalam kegiatan PST. Misalnya, penerbitan Buletin Banjarsari setiap dua minggu sekali;
4.    Kualitas media kampanye komunikasi yang telah digunakan hendaknya lebih ditingkatkan. Misalnya, remaja diberikan pelatihan Desktop Publishing dan diberikan kesempatan untuk menerbitkan Buletin Banjarsari. Dari sini akan terjadi transfer teknologi komunikasi informasi yang mampu mendukung pembangunan lingkungan hidup berkelanjutan.
5.    Kampanye komunikasi yang digunakan hendaknya dikemas sebaik mungkin untuk memberikan pengaruh opini remaja atas kesukaan mereka terhadap program ramah lingkungan dan PST.
6.    Jika remaja diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dan turut serta di dalam proses pembuatan keputusan, maka remaja juga akan menggunakan kesempatan tersebut dan menunjukkan bahwa mereka mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan. Hal ini tentunya akan mengubah sikap, perilaku dan alasan remaja untuk berperan aktif dalam pembangunan PST Banjarsari menjadi situs ekowisata di Jakarta Selatan

About Mohammad Reiza

I first started blogging on wordpress in November 2006 that you can find at mohammadreiza.com and later in January 2007 I added another blog at reizamohammad.wordpress.com and I just recently added another blog in May 2013 at reizamonologues.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s